Perkara Guiding Block di Tangsel: Tanpa Tekstur hingga Ubah Warna

2026-01-16 06:55:54
Perkara Guiding Block di Tangsel: Tanpa Tekstur hingga Ubah Warna
Blok pemandu (guiding block) di trotoar kawasan Tangerang Selatan (Tangsel) ramai dibahas di media sosial (medsos). Guiding block ramai dibahas karena cuma dicat.Umumnya, guiding block di trotoar dibangun menggunakan papan bertekstur yang menjadi petunjuk bagi penyandang tunanetra. Namun, guiding block di trotoar tersebut hanya dicat warna kuning.Trotoar dengan 'guiding block' berkelir kuning itu ada di Jalan Puspiptek-Serpong, Tangsel, tepatnya di depan SMAN 2 Tangerang Selatan hingga SMPN 8 Tangerang Selatan.detikcom mendatangi lokasi trotoar dengan guiding block tanpa tekstur dan hanya dicat seperti video viral di medsos. Kini, cat kuning telah diganti dengan cat abu-abu.Pantauan detikcom di lokasi, Senin (29/12/2025) pukul 11.30 WIB, sisa cat kuning masih terlihat pada trotoar tersebut. Guiding block juga belum terpasang di trotoar.Petugas yang membenahi trotoar tersebut juga sudah tidak lagi tampak. Menurut Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Tangsel, pengerjaan cat ulang trotoar tersebut dilakukan pada hari Sabtu (27/12)."Penanganan langsung dikerjakan oleh Dinas PUPR Provinsi Banten, pergantian warna dilakukan pada hari Sabtu kemarin," ujar Humas Dinas SDABMBK Tangsel Kemal saat dihubungi, Senin (29/12/2025).Kemal menjelaskan, trotoar tersebut jadi kewenangan Dinas PUPR Provinsi Banten. Laporan warga soal guiding block bercat kuning di trotoar tersebut telah diteruskan ke Dinas PUPR Provinsi Banten. "Lokasi pedestrian di depan SMPN 8 Kota Tangerang Selatan, Jalan Serpong-Puspiptek, merupakan kewenangan Dinas PUPR Provinsi Banten," kata Kemal.Seorang warga bernama Joni (33) menyebutkan trotoar itu telah diperbaiki sejak beberapa bulan lalu. Ia awalnya mengira trotoar tersebut memiliki guiding block karena ada warna kuning di tengahnya."Saya mikirnya waktu itu saya kira bener ya, ada yang buat disabilitasnya itu. Tapi ternyata kan kalau yang saya dengar, terus juga katanya jadi viral di socmed, ternyata nggak ada buat yang disabilitasnya itu ya," ujar Joni saat ditemui di lokasi.Joni mengatakan trotoar tersebut dicat ulang menggunakan warna abu-abu pada Sabtu (27/12). Dia berharap trotoar tersebut diperbaiki kembali sehingga dapat digunakan sesuai dengan penggunaannya."Ya trotoarnya lebih sesuai lagi lah penggunaannya. Ini kan buat jalan gitu, kan. Terus juga biar enak warganya. Saya pikir ya harus dibenerin sih, Bang," kata Joni.Warga lainnya, Maulana (24), juga berharap perbaikan trotoar tersebut konsisten dengan rencana awal pemerintah. "Kalau saya sih berharap ya biar ini ya, bergantung juga dari pemerintahnya idenya gimana. Ya kalau bisa konsisten lah. Misal, pemerintah maunya buat disabilitas ya harus ada guiding block-nya gitu, Bang, kalau mau gitu," ujar Maulana.Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menjelaskan soal trotoar yang viral dicat kuning menyerupai blok petunjuk di Tangsel. Pemprov menyebutkan inisiatif pengecatan itu dilakukan untuk memperindah trotoar dan akan dibangun guiding block asli pada 2026.Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten, Arlan Marzan, menyebutkan trotoar sepanjang 190 meter itu sudah dibangun pada 2014. Kemudian, banyak laporan soal kondisi trotoar sudah kusam."Emang dari awal itu nggak ada guiding block-nya, terus karena kondisinya sudah agak rusak-rusak, kumuh, sama Hamdan (Kepala UPTD PJJ Tangerang) diperbaiki, dicat dibikin biar cantik, biar estetik," kata Arlan.Menurut dia, pemasangan guiding block akan dilakukan tahun depan dan anggarannya sudah disiapkan. Sementara itu, dia mengatakan perubahan warna cat menjadi abu-abu dilakukan agar tampilannya lebih natural."Pemeliharaan itu dicat, tadinya ada warna kuningnya, kan kurang bagus, diganti abu-abu, biar natural," katanya.Simak juga Video '#SaveSiJalurKuning: 13 Rintangan Tunanetra di Trotoar Jalan Dewi Sartika':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 06:01