Wafatnya Dua Dosen Filsafat dan Masa Depan Nalar

2026-02-08 15:17:35
Wafatnya Dua Dosen Filsafat dan Masa Depan Nalar
DALAM dua hari berturut-turut, dunia filsafat Indonesia kehilangan dua pengajarnya yang tekun.Romo FX Mudji Sutrisno, SJ (dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara) wafat pada 28 Desember 2025, disusul Fransiskus Borgias, dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan, pada 29 Desember 2025.Kepergian mereka terjadi di penghujung tahun—saat publik sibuk menutup laporan, menyusun resolusi, dan menatap masa depan.Apakah arti peristiwa ini bagi dunia pendidikan dan kebudayaan?Pertanyaan itu tidak perlu dijawab secara simbolik berlebihan. Namun, membaca peristiwa ini semata sebagai kebetulan biologis juga terlalu dangkal.Dalam horizon filsafat, kematian dua dosen dalam rentang waktu yang sangat dekat dapat dibaca sebagai peristiwa etis—momen yang mengundang refleksi tentang bagaimana filsafat diajarkan, diwariskan, dan dihidupi hari ini (Arendt, 1961).Romo Mudji Sutrisno dikenal luas sebagai imam Jesuit, filsuf, dan budayawan yang menjadikan keheningan, seni, dan pengalaman estetis sebagai pintu masuk refleksi.Dalam banyak karyanya, ia menempatkan kebudayaan bukan sekadar produk, melainkan ruang pengolahan makna manusia (Sutrisno, 1993; 2010).Filsafat baginya bukan pertama-tama sistem konsep, melainkan latihan kepekaan batin untuk membaca realitas secara lebih manusiawi.Melalui estetika, Romo Mudji mengajak orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia instrumental.Keheningan, menurutnya, bukan kekosongan, melainkan ruang tempat manusia kembali belajar mendengarkan—baik sesama maupun dirinya sendiri (Sutrisno, 2020).Di tengah masyarakat yang semakin cepat dan reaktif, sikap ini menjadi bentuk perlawanan kultural yang halus, tetapi mendasar.Berbeda dengan itu, Fransiskus Borgias dikenal sebagai dosen filsafat yang tekun menjaga disiplin nalar dan ketertiban argumentasi.Ia mewakili tradisi filsafat akademik yang menekankan ketelitian konsep, kesabaran membaca teks, dan tanggung jawab rasional dalam berargumen—nilai-nilai yang menjadi tulang punggung tradisi filsafat Barat sejak Aristoteles hingga pemikir kontemporer (Gadamer, 1989; MacIntyre, 1981).Yang satu menekankan kedalaman rasa dan makna, yang lain menegakkan ketertiban berpikir dan kejernihan nalar. Namun, keduanya bertemu pada satu titik: filsafat tidak boleh menjadi hiasan intelektual, melainkan cara hidup yang bertanggung jawab.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Lalu ketiga, penguatan talenta keamanan siber ASN, baik di pusat maupun di daerah, dan terakhir, pendampingan intensif melalui Ekosistem Keamanan Siber Nasional.Dengan empat langkah strategis ini, keamanan siber tidak lagi bersifat reaktif, tetapi menjadi sistem pertahanan yang proaktif, terstandarisasi, dan terintegrasi untuk melindungi ruang digital Indonesia, jelasnya.Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi mengatakan, sinergi, kolaborasi, kerja sama, persatuan, kerukunan, adalah rumus keberhasilan suatu bangsa dalam mewujudkan transformasi nasional.Menurutnya, BSSN dan Kementerian PANRB terus berupaya meningkatkan sinergi dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk dalam pelaksanaan program percepatan transformasi digital yang aman.Baca juga: Rapat bersama DPR, Menteri PANRB Sampaikan Progres dan Proyeksi Program Kerja Kementerian PANRBTentu saja percepatan transformasi itu untuk mendukung Asta Cita dan Program Prioritas Presiden menuju Indonesia Emas 2045.Kami sangat mengapreasiasi Kementerian PANRB yang telah memberikan arahan dan dukungan sehingga terbuka ruang kolaborasi yang kuat antar kedua institusi, kata Sulistyo.Kolaborasi itu, kata dia, diwujudkan dengan menempatkan keamanan siber dan sandi sebagai enabler dan trust builder, serta mengintegrasikan keamanan siber dan sandi dalam kebijakan serta peta jalan penyelenggaraan transformasi digital.Hal tersebut, dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kepada masyarakat.

| 2026-02-08 14:39