Jebakan Pengalaman: Pemicu Senyap Leadership Gap Syndrome

2026-02-02 13:25:18
Jebakan Pengalaman: Pemicu Senyap Leadership Gap Syndrome
BANYAK orang tumbuh dengan keyakinan klasik bahwa “pengalaman adalah guru terbaik.” Namun, dalam konteks kepemimpinan modern, adagium itu tidak selalu benar.Pengalaman bisa menjadi sumber kebijaksanaan, tetapi juga bisa menjadi penjara yang tak terlihat.Inilah yang disebut Jebakan Pengalaman (Experience Trap)—ketika seorang pemimpin terlalu percaya pada keberhasilan masa lalunya dan tanpa sadar menjadikannya dogma mutlak untuk semua situasi.Fenomena ini merupakan salah satu pemicu utama Leadership Gap Syndrome (LGS): jurang antara apa yang seharusnya dilakukan pemimpin di masa kini dengan apa yang masih mereka lakukan karena tertambat pada masa lalu.Kadang yang kita sebut ‘pengalaman berharga’, justru menjadi tembok yang menghalangi pembelajaran baru.Kisah nyata seorang CEO berikut menggambarkan bagaimana jebakan pengalaman bisa menghancurkan karier yang tampak sempurna.Ia adalah sosok yang disegani, lulusan MBA dengan predikat cum laude, pernah membawa perusahaannya di Amerika Serikat menuju pertumbuhan fantastis. Kesuksesan demi kesuksesan membuatnya yakin bahwa resep lama akan selalu manjur.Baca juga: Mewaspadai 4 Dampak Buruk Leadership Gap SyndromeHingga suatu hari, ia menerima tawaran prestisius dari perusahaan nasional Indonesia yang tengah berekspansi menjadi pemain regional, bahkan ke panggung global.Ia datang dengan penuh percaya diri—dan tanpa disadarinya, juga dengan bagasi masa lalu yang berat.Keberhasilan masa lalu bukan jaminan relevansi masa kini. Dalam tiga bulan pertama, CEO ini mengubah banyak hal secara drastis.Ia meniadakan budaya musyawarah mufakat, menggantinya dengan keputusan sepihak yang dia anggap make sense dan scientific.Ia menilai promosi hanya dari performa individual, menghapus pertimbangan loyalitas dan kekeluargaan yang selama ini menjadi budaya dan roh organisasi selama lebih dari dua dekade.Bahkan, ia membatasi kegiatan kebersamaan seperti family gathering karena dianggap tidak produktif dan berpotensi sebagai ajang curhat yang tidak profesional.Semua kebijakan itu didasarkan pada nilai-nilai ala barat yang dulu membuatnya sukses luar biasa di perusahaan multinasional Amerika—individualisme, meritokrasi, dan kebebasan pribadi.Kebijakan yang tampak rasional belum tentu kontekstual. Namun, konteks budaya timur khususnya kearifan Nusantara, tempat barunya bekerja berbeda sama sekali.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-02 12:50