JAKARTA, – Di tengah ritme kota yang serbacepat, jalur-jalur yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki di Jakarta justru kerap menunjukkan realitas yang jauh dari ideal.Mulai dari trotoar yang terpotong oleh lapak pedagang kaki lima, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menua, hingga zebra cross yang lebih sering dilintasi kendaraan tanpa berhenti, semuanya berpadu membentuk potret sehari-hari warga yang harus berjalan kaki di Jakarta.Bagi sebagian orang, fasilitas itu mungkin hanya sekadar elemen kota. Namun, bagi mereka yang setiap hari mengandalkan kaki untuk mencapai halte, kantor, pasar, atau stasiun, kondisi fasilitas pejalan kaki menjadi soal kenyamanan, bahkan keselamatan.Baca juga: Potret Muram Munasain: Museum Tua di Bogor yang Sering Dikira TutupDi Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebuah JPO tua berdiri dengan rangka besi kusam dan atap melengkung yang sebagian sudah memudar.Dari bawah, JPO itu tampak seperti lorong sempit menggantung di atas lalu lintas padat yang didominasi bus Transjakarta dan sepeda motor.Hafizh Wahyu Darmawan Fasilitas JPO Lenteng Agung harus tunggu bergiliran untuk lewatNamun persoalan utamanya bukan soal keusangan bangunan, melainkan ukuran tangganya yang hanya cukup untuk satu orang dewasa dalam satu waktu.Saat Kompas.com menyusuri kondisi JPO tersebut pada Senin sekitar pukul 08.30 WIB, naik turunnya alur manusia terjadi hampir tanpa henti. Meski begitu, orang yang naik dan turun terpaksa saling mengalah.Jika keduanya memaksa lewat bersamaan, bahu mereka pasti bersinggungan, bahkan beberapa orang harus memiringkan badan agar bisa lewat.Saat itu, seorang ibu paruh baya terlihat berhenti sejenak di pertengahan tangga, memegang kuat pegangan besi sambil menunggu lawan arah turun.Di belakangnya, seorang pemuda ikut menahan langkah. Ketika arus turun sudah cukup lengang, barulah keduanya kembali menaiki tangga secara perlahan.Kondisi ini membuat JPO Lenteng Agung mirip jalur sempit yang memaksa satu per satu orang untuk lewat bergiliran.Kejadian saling menunggu di JPO Lenteng Agung merupakan hal yang umum terjadi. Berdasarkan pantauan di lokasi, ada momen ketika empat orang dari bawah ingin naik, tetapi dari atas datang rombongan dua hingga tiga orang.Baca juga: Satu-satunya di Dunia, Bekas Gudang Rempah VOC di Jakut Beralih Jadi Rumah WargaAkhirnya, salah satu pihak memilih menepi di area tangga yang sedikit lebih lebar untuk memberi jalan. Namun, penantian itu sering menciptakan “bottleneck” atau hambatan yang memperlambat arus kedua arah.Ahmad (58), seorang pejalan kaki yang hampir setiap hari melewati JPO tersebut, mengatakan kondisi itu sering membuatnya mengalami keterlambatan.“Aduh sering banget (terlambat). Saya lagi buru-buru mau ngejar kereta, eh dari atas ada rombongan turun. Ya udah nunggu mereka lewat. Kadang sampe dua-tiga kali berhenti," kata Ahmad saat ditemui, Senin.
(prf/ega)
Menelusuri Kondisi Fasilitas Pejalan Kaki di Jakarta, Ada JPO Sempit dan Sulitkan Pengguna
2026-01-12 03:55:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:44
| 2026-01-12 03:32
| 2026-01-12 03:18
| 2026-01-12 03:18
| 2026-01-12 02:22










































