- Suasana Senin menjadi hari yang tidak biasa bagi Kepala SDN 33 Koto Alam, Mardiah ZN.Meski telah memacu sepeda motornya melewati jalan yang masih dipenuhi lumpur dan material longsor, setibanya di sekolah yang terletak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), ia hanya mendapati bangunan terkunci dan sampah berserakan.Tak ada lagi gelak tawa dan sorak siswa yang biasanya menyambutnya. Yang terdengar hanya kicau burung dan deru air sungai.Sungai yang sama, yang kini jaraknya kian dekat ke sekolah, telah menjadi saksi bisu tragedi banjir bandang (galodo) yang merenggut nyawa ratusan warga di Jorong Salareh Aie dan Salareh Aie Timur.Tragedi itu juga menelan sembilan murid SDN 33 Koto Alam. Empat di antaranya hingga kini belum ditemukan jasadnya.Baca juga: BNPB Catat 1.006 Korban Meninggal Akibat Bencana Sumatera, Kabupaten Agam Jadi yang Tertinggi“Biasanya kalau saya datang, pasti mereka langsung menyapa atau menyalami,” ujar Mardiah (55) dengan suara bergetar.Tangisnya pecah ketika mengenang rutinitas yang kini hanya tinggal kenangan.Duka Mardiah berlapis. Luka kehilangan buah hatinya dua tahun lalu belum sepenuhnya pulih, kini ia kembali diuji dengan kehilangan murid-murid yang telah ia anggap seperti anak sendiri.Di ruang guru SDN 33 Koto Alam, suasana terasa hampa. Mardiah tetap datang menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah, merapikan diri dan berdandan sederhana layaknya guru panutan.Namun komunikasi antar guru berlangsung seperlunya, hanya untuk menyelesaikan laporan yang diminta dinas pendidikan.“Setelah tugas selesai, kami cepat pulang. Rasanya berat berlama-lama di sekolah,” kata salah seorang guru.Proses belajar mengajar pascabencana banjir bandang Agam pun dialihkan secara fleksibel.Para siswa tetap menerima tugas melalui grup WhatsApp, tanpa paksaan. Orang tua diminta tidak memaksa anak belajar jika masih diliputi trauma.Kebijakan ini diambil karena hampir seluruh siswa, termasuk yang tidak terdampak langsung, mengalami tekanan psikologis akibat kehilangan teman dan menyaksikan dampak bencana.Baca juga: 10 Korban Banjir di Agam Sumbar Tak Teridentifikasi Dimakamkan Secara Massal di Satu Liang LahatJauh sebelum banjir bandang melanda pada Kamis , Mardiah telah diliputi kecemasan. Lokasi sekolah yang berada di lereng bukit dan hujan deras selama sepekan membuatnya waswas.
(prf/ega)
9 Bangku Kosong di SDN 33 Koto Alam, Duka Guru di Agam Kehilangan Murid Akibat Banjir Sumatera
2026-01-12 05:07:38
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:16
| 2026-01-12 05:10
| 2026-01-12 05:08
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 03:27










































