Maling Sapi Tewas Ditembak Aparat di Bangkalan

2026-02-05 08:24:00
Maling Sapi Tewas Ditembak Aparat di Bangkalan
BANGKALAN, - Penangkapan maling sapi berinisial AM di Desa Kapor, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berujung maut pada Sabtu dini hari.Pelaku tewas usai mendapatkan tiga tembakan, sedangkan seorang polisi mendapat dua luka bacok di tubuhnya.Kapolres Bangkalan, AKBP Hendro Sukmono mengatakan, anggotanya, yakni Briptu Khairul Mufid harus dibawa ke rumah sakit setelah peristiwa itu. Sebab, Khairul mendapat dua luka akibat sabetan parang yang dibawa oleh pelaku."Anggota kami mengalami luka di bagian perut sebelah kanan dan pinggan bagian kiri akibat sabetan parang oleh pelaku," ungkapnya, Senin .Baca juga: Residivis Pencurian Ternak Serang Polisi Pakai Parang, Pelaku Tewas TertembakKejadian bermula saat sembilan anggotanya mengintai tiga pelaku pencurian hewan yang meresahkan masyarakat yakni AM, Z dan S. Namun, S kabur sedangkan Z berhasil ditangkap. Adapun AM melakukan perlawanan pada polisi."Jadi AM itu membawa dua parang dan melakukan perlawanan ke petugas saat hendak ditangkap," imbuhnya.Baca juga: Ditanya Maraknya Tambang Ilegal di Bangkalan, Khofifah Enggan KomentarSebelum ditembak, AM terlebih dahulu menyerang polisi. Meskipun, polisi sudah memberikan tembakan peringatan sebanyak dua kali."Akibatnya, petugas melakukan tindakan tegas terukur dan mengenai kakinya," jelasnya.Penembakan di kaki pelaku terjadi sebanyak tiga dengan tujuan untuk melumpuhkan pelaku. Namun, pelaku kehabisan banyak darah saat dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia.Kepala Desa Kendaban, Kecamatan Tanah Merah, Gafur mengatakan, keberadaan maling ternak itu meresahkan masyarakat karena kerap beraksi di sejumlah daerah."Kami mengapresiasi petugas yang sudah berani bertindak tegas sesuai prosedur yang ada untuk masyarakat yang selama ini resah dengan aksi pencurian itu. Semoga anggota yang terluka segera diberikan kesembuhan," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 07:54