Bapanas: Stok Telur Ayam Aman Sampai Lebaran

2026-01-15 05:37:50
Bapanas: Stok Telur Ayam Aman Sampai Lebaran
JAKARTA, - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan stok telur ayam ras nasional aman hingga perayaan Idul Fitri 2026 mendatang. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan produksi telur ayam dalam negeri surplus karena tingkat produksinya yang besar. "Stok telur kita secara nasional banyak. Intinya sangat memenuhi kebutuhan nasional. Secara nasional ketersediaan telur sangat banyak. Lewat Ramadhan juga aman. Surplus kita. Kita tidak ada masalah kalau telur," kata Ketut dalam keterangan resminya, Kamis . Baca juga: Pemerintah Bidik Swasembada Gula, Telur, dan Daging Ayam pada 2026 Ketut mengatakan, kenaikan harga telur ayam cenderung bersifat musiman. Komoditas ini tidak terdampak Makan Bergizi Gratis (MBG) program andalan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pengaruh MBG terhadap permintaan komoditas telur pada 2025 belum signifikan. Adapun kenaikan harga telur dalam beberapa waktu terakhir, kata dia, lebih dipengaruhi momen Natal dan Tahun Baru 2026. “Saat ini namanya sedang menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), demand-nya naik hingga ada kenaikan," ujar Ketut. Baca juga: Harga Telur Ayam Naik di 175 Kabupaten dan Kota, Tembus Rp 31.000 Per Kg Ketut menuturkan, Bapanas rutin memutakhirkan data Proyeksi Neraca Pangan Nasional setiap bulan. Pada neraca itu, angka kebutuhan nasional terhadap telur ayam ras, termasuk untuk program MBG masih bisa disuplai produksi dalam negeri 100 persen. Menurutnya, dari kebutuhan konsumsi telur nasional, porsi permintaan MBG terhadap telur belum begitu besar. Berdasarkan catatan Bapanas, kebutuhan konsumsi telur ayam ras per tahun diperkirakan mencapai 6.487 juta ton. Dari jumlah itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG baru meminta pasokan 1,96 persen atau 127,3 ribu ton telur ras.Baca juga: BPS Sebut MBG Picu Kenaikan Harga Telur


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 05:04