Kenapa Banyak Perusahaan Teknologi Global PHK Karyawan Tahun Ini?

2026-02-03 22:16:00
Kenapa Banyak Perusahaan Teknologi Global PHK Karyawan Tahun Ini?
JAKARTA, - Lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi global pada 2025 bukan lagi peristiwa sporadis, melainkan tren yang berlangsung hampir sepanjang tahun.Berbagai tracker seperti Layoffs.fyi yang dikutip sejumlah media memperkirakan lebih dari 112.000 pekerja teknologi telah terdampak di 2025, hanya dari sekitar 200 sampai 218 perusahaan teknologi di seluruh dunia.Dikutip dari Times of India, Rabu , ada lebih dari 112.000 karyawan di 218 perusahaan teknologi terkena PHK sepanjang 2025.Baca juga: Adopsi AI, HP Bakal PHK hingga 6.000 KaryawanDok. Shutterstock/CrizzyStudio Ilustrasi PHK. Gelombang PHK melanda berbagai perusahaan besar dunia. Banyak di antaranya menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai penyebab, namun pakar menilai alasan itu hanyalah strategi pencitraan yang menutupi persoalan bisnis internal.Nama-nama besar seperti Amazon, Intel, Microsoft, Salesforce, Cisco, Google, dan Meta berada di daftar teratas.Sementara itu, menurut Business Today, sekitar 110.000) pekerjaan teknologi hilang pada 2025 ketika perusahaan “merestrukturisasi” untuk ekonomi yang semakin berpusat pada kecerdasan buatan (AI).Dikutip dari Reuters, Amerika Serikat (AS), data Challenger, Gray & Christmas yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, total pengumuman PHK dari semua sektor mendekati 1,1 juta, tertinggi sejak 2020.Sektor teknologi termasuk di antara yang paling banyak memangkas tenaga kerja.Baca juga: Apple PHK Massal, Tim Sales DipangkasGelombang PHK ini juga semakin dikaitkan secara eksplisit dengan adopsi AI.Laporan Los Angeles Times yang mengutip data firma outplacement Challenger menyebutkan, perusahaan menuliskan AI sebagai alasan langsung untuk 48.414 PHK di AS sepanjang 2025, dengan lebih dari 31.000 di antaranya diumumkan pada bulan Oktober 2025 saja.Berikut ini beberapa faktor utama mengenai penyebab gelombang PHK di perusahaan teknologi global pada 2025 dan kemungkinan arah pergerakannya ke depan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-03 20:24