Ketika Marsinah dan Soeharto di Bingkai yang Sama

2026-01-17 08:00:08
Ketika Marsinah dan Soeharto di Bingkai yang Sama
HARI Pahlawan tahun ini menghadirkan pemandangan yang sukar dibayangkan. Di Istana Negara, potret sepuluh tokoh bangsa berjajar rapi, dibingkai seragam, diberi hiasan emas di tepiannya, dan disusun sejajar di dinding upacara.Di antara wajah-wajah itu, ada dua nama yang membuat orang berhenti sejenak: Marsinah dan Soeharto.Mereka berdiri dalam satu deret sejarah. Dalam satu upacara penghormatan. Dalam satu keputusan negara yang menobatkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional.Ironi yang halus terasa menembus upacara yang khidmat itu. Sebab di balik segala seremoni, di balik musik orkestra dan sambutan resmi, tersimpan satu pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang.Apa arti kepahlawanan ketika korban dan penguasa yang menindasnya kini diperingati bersama?Marsinah adalah buruh perempuan dari Porong, Sidoarjo. Ia bekerja di pabrik arloji dan dikenal berani menyuarakan nasib rekan-rekannya.Baca juga: Soeharto dan Ujian Ingatan BangsaTahun 1993, ketika sebagian besar orang memilih diam, ia berdiri di depan gerbang pabrik menuntut keadilan.Upah layak, jam kerja manusiawi, dan perlakuan adil. Tiga hal sederhana yang mestinya tidak membuat seseorang kehilangan nyawa.Namun, tubuh Marsinah ditemukan beberapa hari kemudian, di sebuah gubuk di hutan Nganjuk. Lebam di wajah, luka di pergelangan, dan tulang rusuk patah. Ia dibungkam oleh kekuasaan yang alergi terhadap perbedaan pendapat.Dua puluh tahun kemudian, nama Marsinah muncul di podium negara. Kali ini bukan sebagai buruh yang dibungkam, melainkan sebagai pahlawan yang diakui.Negara yang dulu menutup telinga kini mengucapkan terima kasih. Sejarah kadang memang memiliki selera humor yang pahit.Soeharto berbeda kisah. Ia muncul dari rahim sejarah yang sama, tetapi berjalan di jalur kekuasaan.Setelah 1965, ia naik ke tampuk pemerintahan, mengendalikan negara selama lebih dari tiga dasawarsa.Ia membangun jalan, waduk, dan program pertanian yang membawa Indonesia ke masa stabilitas. Ia juga membangun ketakutan yang membuat rakyat belajar untuk tidak berbicara terlalu keras.Di masa pemerintahannya, ribuan aktivis ditangkap, pers dikontrol, dan oposisi dimatikan. Marsinah hidup dan mati dalam ruang yang diciptakan oleh sistem itu.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Selain itu, ia juga berpesan agar seluruh ASN di Indonesia tetap menjaga integritas dan terus melayani masyarakat dengan hati.Rini menegaskan bahwa ASN harus bekerja secara profesional untuk mendukung tugas-tugas pemerintahan. Pasalnya, Korpri berperan sebagai simbol persatuan, kolaborasi, dan stabilitas nasional melalui kerja sama seluruh komponen bangsa.Lebih lanjut, Penasihat Harian Dewan Pengurus Korpri Nasional ini berharap agar anggota Korpri bekerja dengan inovasi dan efisiensi, serta mengedepankan pelayanan cepat, hemat, dan transparan melalui pemanfaatan teknologi digital.“Saya berharap Korpri menjadi rumah para ASN dan menjadi wadah yang bermanfaat bagi para ASN dan tentunya untuk memudahkan para ASN berkolaborasi. Sekali lagi selamat kepada Korpri. Selamat Hari Ulang Tahun ke-54,” ucap Rini.Baca juga: 29 November Memperingati Hari Apa? Ini Sejarah HUT KORPRI dan Tema Peringatan 2025Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak para anggota Korpri untuk memperkuat solidaritas dan mendukung penanganan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah wilayah lainnya.Upaya tersebut merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian antarsesama untuk setidaknya meringankan beban saudara se-Tanah Air yang terdampak bencana.Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Korpri Zudan Arif Fakrulloh menekankan bahwa Korpri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah.Oleh karena itu, ia mengajak para anggota untuk menerapkan kesiapsiagaan Korpri dalam mendorong percepatan pembangunan nasional sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Indonesia.Baca juga: Menteri PPN Ajak Perguruan Tinggi Berkontribusi dalam Pembangunan Nasional

| 2026-01-17 07:41