Nenek 65 Tahun Jadi Korban Banjir di Dayeuhkolot, Perahu Karet Antar Jenazah ke Pemakaman

2026-01-12 04:59:27
Nenek 65 Tahun Jadi Korban Banjir di Dayeuhkolot, Perahu Karet Antar Jenazah ke Pemakaman
BANDUNG, – Air perlahan meninggalkan lorong-lorong sempit Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.Namun jejaknya masih membekas. Ada guratan tinggi air di dinding rumah, lumpur tebal yang menggantikan lantai mengilap, dan bau lembap yang menyelimuti udara.Banjir yang mengamuk semalam kini berangsur surut, tetapi duka justru semakin mengendap.Di tengah genangan yang tersisa, warga bergerak pelan. Kasur diangkat ke pagar, perabot dijemur di bawah matahari yang malu-malu, ember-ember air kotor dibuang tanpa suara.Hanya terdengar gesekan sapu di lumpur dan langkah kaki yang ragu, seolah tak ingin mengganggu luka yang masih menganga.Baca juga: Banjir Terjang Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang, Ribuan Warga TerdampakDi salah satu rumah di belakang permukiman, Tuti (65) mengembuskan napas terakhirnya saat air masih setinggi dada orang dewasa.KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Jenazah Tuti (65) warga RW 14, Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diangkut menggunakan perahu lantaran kondisi di Kampung tersebut masih tergenang air, Minggu Perempuan yang sudah lama bergulat dengan penyakit itu sebenarnya tinggal menunggu hari Selasa untuk menjalani operasi. Namun banjir datang lebih cepat dari jadwal dokter.“Memang sudah ada riwayat sakit, kemarin mau dioperasi hari Selasa. Tapi enggak tahu, semalam langsung ngedrop,” kata Ani, saudara almarhumah, dengan suara tersendat, Minggu .Air tidak hanya merendam barang, tapi juga kenangan. Perpisahan digelar tanpa upacara megah. Tak ada jalan kering menuju pemakaman di kampung sendiri, makam lama pun terendam.Maka perahu karet sederhana menjadi kendaraan terakhir Tuti. Jenazahnya diusung pelan di atas air yang mulai tenang, seperti pelayaran sunyi menuju keabadian.Baca juga: Dayeuhkolot yang Tak Pernah Kering: Warga Bertahan dalam Derita Banjir Tanpa AkhirDi ujung jalan yang masih bisa dilalui roda, jenazah dipindahkan ke ambulans menuju Tempat Pemakaman Umum Jelekong—satu-satunya tempat yang tanahnya masih mau menerima liang lahad.“Sekarang alhamdulillah sudah diurus jenazahnya, mau dimakamkan di Jelekong, karena kalau di sini enggak ada tanah yang kering, makam juga kerendem,” ujar Ani lirih.KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Jenazah Tuti (65) warga RW 14, Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diangkut menggunakan perahu lantaran kondisi di Kampung tersebut masih tergenang air, Minggu Duka Ani bertumpuk. Doa-doa belum kering di bibir, tapi langit sudah kembali mendung menjelang siang.Awan kelabu menggantung rendah, angin membawa aroma hujan. Warga buru-buru menaikkan barang lagi, menurunkan jemuran, dan memanjatkan doa dalam diam.Baca juga: Moda Tua yang Tak Tergantikan: Ketika Delman Menjadi Penyelamat Pagi di Dayeuhkolot“Lagi banjir gini, terus ada keluarga yang meninggal ya sedih,” kata Ani.Di Dayeuhkolot, air adalah tamu yang selalu kembali tanpa diundang. Banjir mungkin surut hari ini, tapi bayangannya tak pernah benar-benar pergi.


(prf/ega)