ORGANISASI relawan Projo sejak awal kemunculannya sudah dikenal sebagai salah satu simpul dukungan paling vokal dan terdepan bagi Joko Widodo.Relasi antara Projo dan Jokowi menguntungkan satu sama lain—Jokowi memberi legitimasi politik bagi Projo, sementara Projo bergerak sebagai mesin relawan yang memberi Jokowi sentimen populer yang mampu menjangkau akar rumput.Namun, di saat kekuasaan berganti, Projo yang dipimpin Budi Arie Setiadi menjatuhkan dukungannya kepada Prabowo Subianto.Langkah ini memunculkan pertanyaan bagi publik, apakah ini adalah gejala telah memudarnya pengaruh Jokowi, atau justru ini hanyalah strategi Projo dalam membaca arah kekuasaan hari ini?Secara sekilas langkah ini dengan mudah dibaca sebagai pengkhianatan. Namun di sisi lain, langkah ini dapat dibaca bahwa organisasi relawan adalah entitas yang tidak jauh berbeda dengan aktor politik lainnya yang memiliki kalkulasi strategis dalam mempertahankan eksistensi di panggung politik.Baca juga: Projo di antara Kultus Jokowi dan Kekuasaan PrabowoDalam kerangka teori rational choice yang dikemukakan Jon Elster (1986) dijelaskan bahwa pilihan politik bukan semata-mata bicara soal afeksi atau identitas, tetapi juga bicara soal bagaimana memaksimalkan utilitas di tengah keterbatasan yang ada.Dari sudut pandang ini, dukungan Projo yang ditujukan ke Prabowo bukanlah tindakan arbitrer, melainkan langkah yang dihitung secara rasional dalam menghadapi peta kekuasaan yang baru.Membaca tahap demi tahap dipandang menjadi perlu untuk memahami fenomena ini.Pada masa Jokowi berkuasa selama satu dekade, posisi Projo begitu jelas. Mereka memperoleh legitimasi, akses kebijakan, akses sumber daya, hingga posisi berpengaruh di dalam pemerintahan.Namun, politik adalah arena kontestasi yang begitu dinamis. Di saat sang patron mengakhiri masa jabatan, otomatis daya tawarnya sebagai sumber akses politik menurun.Situasi inilah yang memunculkan dilema, apakah hubungan lama akan terus memberi keuntungan di saat patron tidak lagi menjadi kunci kekuasaan?Dalam situasi ini, organisasi relawan sebagai aktor politik harus menghitung ulang kalkulasi politiknya. Langkah Projo merapat ke barisan pendukung Prabowo harus ditempatkan dalam konteks kalkulasi politik.Prabowo sebagai kunci kekuasaan, menawarkan keberlanjutan akses dan relevansi bagi para aktor politik yang ingin tetap berada dalam orbit kebijakan nasional.Di samping itu, figur Prabowo – Gibran memberi peluang narasi keberlanjutan dukungan secara simbolik.Alih-alih membelot, Projo justru menjaga kesinambungan dukungan lewat anak sang patron sebelumnya—termasuk menjaga kesinambungan narasi mengawal kepentingan rakyat.
(prf/ega)
Politik Relawan dan Rasionalitas Kekuasaan
2026-01-12 06:14:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:31
| 2026-01-12 05:47
| 2026-01-12 05:04
| 2026-01-12 04:14
| 2026-01-12 04:06










































