Dari QRIS Tap In–Out hingga Tarik Tunai Fintech, Ini Langkah Jalin di FEKDI 2025

2026-01-16 09:05:42
Dari QRIS Tap In–Out hingga Tarik Tunai Fintech, Ini Langkah Jalin di FEKDI 2025
– PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) berkomitmen memperkuat infrastruktur sistem pembayaran nasional dengan berpartisipasi dalam Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), mulai Kamis hingga Sabtu .Ajang yang digelar Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) ini mengusung tema “Sinergi dan Inovasi untuk Akselerasi Transformasi Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia.”Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kolaborasi lintas otoritas dan industri untuk mempercepat transformasi digital nasional.“Sinergi antara regulator, kementerian, dan pelaku industri menjadi kunci percepatan transformasi digital ekonomi Indonesia sebagai bagian dari Asta Cita. Indonesia kini tumbuh sebagai salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia,” ujar Perry dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu .Baca juga: 48 Persen Treasurer Indonesia Khawatir Risiko Siber Hambat Transformasi Keuangan DigitalKomitmen tersebut sejalan dengan peran Jalin sebagai infrastruktur pembayaran nasional yang memastikan keterhubungan transaksi di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bank, teknologi finansial (tekfin), hingga sektor ritel.Melalui sistem yang andal, aman, dan terintegrasi, Jalin mendukung misi BI menciptakan sistem pembayaran yang efisien, inklusif, dan berdaulat.Sebagai informasi, FEKDI x IFSE 2025 juga menjadi ajang peluncuran berbagai inovasi strategis untuk memperkuat interkonektivitas sistem pembayaran Indonesia.Salah satunya adalah peluncuran QRIS Tanpa Pindai (tap in–tap out) di lima moda transportasi publik dan fasilitas parkir Jabodetabek, yakni MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, dan TransJakarta.Baca juga: Perkuat Inklusi Keuangan Digital di Indonesia, BRI Luncurkan Kartu Debit Co-Branding BRI X INDODAXFitur tersebut memungkinkan masyarakat melakukan pembayaran hanya dengan satu sentuhan tanpa perlu memindai kode QR.Selain itu, BI juga memulai uji coba QRIS Cross-Border Indonesia–Korea Selatan, melanjutkan ekspansi konektivitas lintas negara setelah sebelumnya diterapkan bersama Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang.Saat ini, QRIS telah digunakan oleh hampir 60 juta pengguna di seluruh Indonesia, dengan sekitar 93 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.Hal itu menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan nasional tumbuh secara organik dari masyarakat dan menjadi fondasi utama inklusi ekonomi digital.Direktur Komersial Jalin, Eko Dedi Rukminto, mengatakan, keberhasilan uji coba inovasi QRIS Tanpa Pindai menjadi bukti konkret kontribusi perusahaan dalam mendukung visi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030.Baca juga: Indosat dan Bank Saqu Kolaborasi Perluas Inklusi Keuangan Digital“FEKDI adalah bukti nyata bahwa transformasi digital hanya bisa berjalan melalui kolaborasi. Jalin berperan memastikan sistem pembayaran Indonesia tidak hanya efisien, tetapi juga berdaulat agar setiap transaksi, data, dan infrastruktur tetap berada dalam ekosistem nasional,” ujarnya.Sebagai tindak lanjut sinergi di FEKDI x IFSE 2025, Jalin memperkuat kolaborasi dengan perbankan dan tekfin melalui sejumlah inisiatif strategis.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-01-16 08:28