Komnas HAM: Negara Masih Punya Utang Keadilan pada Marsinah

2026-01-14 08:10:59
Komnas HAM: Negara Masih Punya Utang Keadilan pada Marsinah
Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegaskan bahwa hak atas keadilan dan kebenaran dalam kasus pembunuhan Marsinah belum terpenuhi. Meskipun negara telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah.“Ketika gelar pahlawan diberikan, hak atas keadilan dan kebenaran atas kasusnya sendiri itu sebenarnya masih ada, belum dipenuhi,” kata Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, di Jakarta, Rabu .Anis menjelaskan, pemberian gelar pahlawan merupakan bentuk pengakuan negara atas perjuangan Marsinah dalam memperjuangkan hak-hak buruh. Namun, di sisi lain, negara juga masih memiliki tanggung jawab moral untuk menuntaskan kasus kematiannya.Advertisement“Negara masih punya utang hak atas keadilan bagi Marsinah yang dibunuh pada saat memperjuangkan haknya dan hak-hak pekerja. Itu belum diselesaikan, belum diusut secara tuntas,” ujar Anis, dilansir Antara.“Jadi, saya kira ini paradoks, orangnya diberikan gelar, tetapi kasusnya sendiri belum selesai,” imbuhnya.Lebih lanjut, Anis menjelaskan bahwa peristiwa kematian Marsinah secara hukum dikategorikan sebagai kasus pidana, bukan pelanggaran HAM berat. Karena itu, pengusutannya memiliki batas waktu (kedaluwarsa).“Kalau itu pidana, ada masa kedaluwarsa. Tapi kalau pelanggaran HAM berat, tidak mengandung kedaluwarsa. Peristiwa Marsinah ini masuk pidana, sehingga ada keterbatasan waktu,” terangnya.


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-14 08:24