BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 1 Desember 2026, Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Sangat Lebat

2026-01-15 03:51:53
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 1 Desember 2026, Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Sangat Lebat
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis laporan terbaru mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada Jumat, 1 Januari 2026.Pihak BMKG meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai risiko bencana hidrometeorologi. Berikut adalah daftar lengkap wilayah yang terdampak prakiraan cuaca tersebut:Kategori wilayah ini memerlukan perhatian khusus karena intensitas curah hujan yang berada pada level tertinggi, yang sering kali memicu banjir dan tanah longsor:Baca juga: Anggota DPR Minta Semua Pihak Waspada Potensi Cuaca Ekstrem pada Akhir TahunMeskipun intensitasnya setingkat di bawah kategori ekstrem, wilayah-wilayah berikut tetap diimbau untuk waspada terhadap genangan air dan perubahan cuaca mendadak:Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem di Banten hingga 3 Januari 2026, BMKG Ungkap Pemicu dan Wilayah TerdampakMengingat luasnya sebaran cuaca ekstrem pada 1 Desember 2026, BMKG memberikan instruksi khusus bagi warga yang berada di wilayah terdampak.Warga disarankan untuk rutin memeriksa kondisi drainase di lingkungan sekitar dan tetap memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi Info BMKG guna mendapatkan rincian per jam di wilayah masing-masing.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 02:13