AGAM, - Matinya listrik akibat banjir bandang di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat tak membuat warga hilang akal. Di tengah sulitnya hidup tanpa listrik, warga harus kreatif sambil menunggu perbaikan jaringan yang tak kunjung datang.Seperti Deski (27) misalnya. Ia tinggal sekitar 300 meter dari bibir sungai yang kini sudah menjadi ladang lumpur dan tanah bebatuan. Rumahnya ada di perbukitan.Selama 10 hari setelah bencana banjir bandang, ia bersama keluarganya hidup tanpa listrik. Untuk mengakalinya, misalnya, ia menggunakan aki motor untuk mengisi baterai handphone.Baca juga: Jembatan Darurat di Agam Hancur, Warga Menyeberang Pakai Batang Pohon"Listrik enggak ada. Buat nge-charge handphone aja pakai aki motor. Daritadi ngecharge dua jam, cuma lima persen," kata Deski sembari tertawa saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Minggu siang.Ia membuat alat penyambung daya listrik antara kabel charger dan aki motor. Alat itu mengonversi listrik aki motor yang disambung dengan kabel dan ditempel ke aki motor."Kami rakit sendiri alatnya. Ngambil listriknya dari aki motor. Mengisi sih tapi lama. Akinya lemah," ujarnya sambil kembali tertawa./WAHYU ADITYO PRODJO Selama 10 hari setelah bencana banjir bandang menerjang Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, Agam, Sumatera Barat, Deski bersama keluarganya hidup tanpa listrik. Untuk mengakalinya, misalnya, ia menggunakan aki motor untuk mengisi baterai handphone.Ia menunjukkan cara kerja pengisian daya baterai handphone. Saat itu, Deski memang sedang mengisi baterai handphone dengan aki motor.Motor matic berkelir biru miliknya ada di depan rumah tepat di pinggir jalan. Handphonenya diletakkan di dalam bagasi motor yang ukurannya tak seberapa besar. Ada kabel putih yang tersambung di alat rakitannya dan di lubang pengisian daya handphone. Baca juga: Kisah Petani Agam Kehilangan Segalanya Usai Banjir Bandang: Saya Tak Tahu Harus ApaIa juga membuka layar monitor handphonenya yang terkunci. Jari Deski menunjuk ke arah simbol baterai di bagian kanan atas handphonenya."Ini malah mundur persennya. Kalau dihidupin motor, akinya bisa isi ulang," kata Deski sambil tertawa melihat indikator daya baterainya justru menunjukkan angka satu persen./WAHYU ADITYO PRODJO Selama 10 hari setelah bencana banjir bandang menerjang Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, Agam, Sumatera Barat, Deski bersama keluarganya hidup tanpa listrik. Untuk mengakalinya, misalnya, ia menggunakan aki motor untuk mengisi baterai handphone.Model pengisian daya baterai handphone ini memang diakuinya tak bisa diandalkan. Namun, ia bersyukur bisa menghidupkan handphonenya."Bisa sih ngidupin handphone tapi apa adanya. Yang penting buat ngidupin handphone saja. Kalau berharap untuk penuh sih, mah susah," tambah pria dengan dua anak tersebut.Model pengisian daya baterai ini pernah ia coba lakukan saat jaringan listrik belum masuk ke kampungnya. Kecepatan pengisian daya baterai bisa diakuinya lebih cepat jika motor dinyalakan.Baca juga: Kesaksian Tim SAR Temukan Tiga Korban Banjir Bandang Saling Berpegangan Tangan di Agam"Tapi kalau motor dinyalakan, perlu bensin. Nah ini bensin susah," kata Deski. Ia berharap jaringan listrik di kampungnya bisa cepat pulih. Pasalnya, Deski dan warga lainnya membutuhkan listrik untuk mengisi daya baterai handphone dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
(prf/ega)
Banjir Bandang Agam Membuat Listrik Mati, Warga Ini Cas Handphone Pakai Aki Motor
2026-01-12 03:52:03
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:31
| 2026-01-12 03:20
| 2026-01-12 02:06
| 2026-01-12 01:11
| 2026-01-12 01:08










































