Kisah Isna Walidah, Ibu Guru SLB yang Sukses Bangun Kemandirian Siswanya

2026-01-12 04:39:56
Kisah Isna Walidah, Ibu Guru SLB yang Sukses Bangun Kemandirian Siswanya
SUMBAWA,  - Di balik peringatan Hari Ibu, tersembunyi kisah seorang ibu muda yang luar biasa.Isna Walidah (32), seorang guru PNS di Sekolah Luar Biasa (SLBN) 1 Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), membuktikan bahwa menjadi ibu dan pendidik adalah dua peran yang bisa dijalankan dengan gemilang.Sebagai seorang ibu muda dengan satu anak berusia 4,5 tahun, Isna memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya.Namun, panggilan tugas sebagai guru SLB membuatnya harus rela tinggal terpisah dari keluarga besarnya."Kalau di Sumbawa, saya sudah beli rumah karena cukup jauh perjalanan dua jam dari Empang ke Sumbawa. Awalnya bolak balik juga. Tapi cukup capek jika bolak balik terus, sementara mengajar di sekolah sampai sore," ujar Isna saat dikonfirmasi Senin .Meski berat, Isna meyakini bahwa pengorbanannya ini adalah bagian dari perjuangan untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak berkebutuhan khusus.Baca juga: Kisah Atika Suneth, Ibu Tunggal Pedagang Ubi yang Sukses Antarkan 3 Anaknya Raih Gelar SarjanaIsna menceritakan, dia biasanya pulang ke kampung di Desa Ongko, Kecamatan Empang, saat hari libur atau akhir pekan.Sebisa mungkin, dia juga membawa anak-anak jika tidak banyak kerjaan di sekolah. Namun, jika sedang banyak deadline, dia akan meminta orangtua atau keluarganya untuk menjaga sang anak.Membimbing siswa-siswa dengan disabilitas rungu sejak tahun 2021, Isna menjadi saksi hidup bagaimana para siswanya ditolak saat hendak magang.Diskriminasi tersebut lantas membuatnya semakin bertekad untuk membuktikan bahwa siswa-siswanya memiliki potensi yang luar biasa.Dengan latar belakang pendidikan miliknya, Isna mulai mengembangkan inovasi pembelajaran digital.Dia membekali siswa SMA-LB dengan keterampilan desain produk digital yang banyak dibutuhkan industri kerja saat ini."Saya mengajar keterampilan digital bagi siswa disabilitas rungu, padahal latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan luar biasa. Awalnya, saya tidak punya basic IT sama sekali," ujar Isna.Baca juga: Sosok Juliati Harimu, Ibu Pengolah Sagu Jadi Obat demi Kesembuhan AnaknyaKeterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat Isna. Dia memanfaatkan aplikasi Microsoft Word yang sederhana untuk mengajarkan konsep desain dasar.Hasilnya, siswa-siswa difabel rungu itu ternyata sangat cepat menangkap materi secara visual dan tekun dalam mengerjakan tugas.


(prf/ega)