Universitas Brawijaya Kembangkan Biochar dan Kompos untuk Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Desa

2026-01-13 06:53:54
Universitas Brawijaya Kembangkan Biochar dan Kompos untuk Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Desa
— Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi biochar dan kompos sebagai solusi pengelolaan limbah pertanian dan peternakan berbasis desa. Inovasi ini diterapkan di Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, untuk menjawab persoalan limbah sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.Pertanian dan peternakan merupakan sektor vital penyokong pangan, tetapi di sisi lain menghasilkan limbah dalam jumlah besar, mulai dari jerami padi, sekam, hingga kotoran ternak. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, menurunkan kualitas tanah dan air, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca.Melalui penerapan teknologi biochar dan kompos, UB berupaya mentransformasi limbah menjadi sumber daya bernilai guna. Program ini merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) yang bertujuan memperkuat hilirisasi riset perguruan tinggi agar berdampak langsung bagi masyarakat desa.Baca juga: Riset Dunia Ungkap, Biochar Bisa Jadikan Pengomposan Lebih HijauDesa Kuwonharjo dipilih karena merupakan sentra pertanian dan peternakan dengan produksi limbah jerami padi dan kotoran ternak yang cukup besar.Selama ini, jerami padi kerap dibakar setelah panen atau hanya dimanfaatkan secara terbatas, sementara limbah peternakan ditumpuk di sekitar kandang. Praktik tersebut berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan dan degradasi kualitas tanah.Dalam program tersebut, UB menyerahkan teknologi pengolahan limbah kepada Kelompok Tani Margo Utomo dan Kelompok Ternak Kuwon Maju sebagai mitra di tingkat desa. Teknologi yang diperkenalkan meliputi sistem pirolisis sederhana untuk mengolah jerami padi menjadi biochar serta teknologi pengomposan berbahan dasar limbah organik dan peternakan.Baca juga: Biochar dari Limbah Manusia Dapat Atasi Kelangkaan Pupuk GlobalSebagai informasi, program tersebut didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2025.Ketua Tim Pengabdian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Nur Hidayat, MP, mengatakan pengelolaan limbah berbasis desa menjadi kunci dalam mendorong pertanian berkelanjutan.Biochar dan kompos dinilai mampu memperbaiki sifat tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.“Limbah pertanian dan peternakan memiliki potensi besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Biochar dan kompos tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga menekan biaya produksi pertanian,” ujar Nur Hidayat dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis .Baca juga: Dipimpin Adik Prabowo, Indonesia Kini Punya Asosiasi Pengembang BiocharKegiatan turut didukung oleh anggota pengabdian, Prof Dr Sucipto, STP, MP dan Lia Nihlah Najwah, SIP, MSi. Selain itu, turut berperan aktif mahasiswa pascasarjana, yakni Indah Fitriana Subekti, ST, Arlis Erliana Savitri, ST, serta Sania Rahma Kurniawati, STP.Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan berdasarkan hibah dengan nomor kontrak 500/C3/DT.05.00/PM-PTTI/2025.Selain manfaat lingkungan, inovasi tersebut juga diharapkan membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui pengelolaan limbah secara kolektif. Pendekatan berbasis kelompok dinilai dapat memperkuat kemandirian petani sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi desa.Baca juga: Biochar Diangkat Jadi Andalan Baru Tekan Emisi GRK Program pengabdian dilaksanakan pada periode Oktober–Desember 2025, mencakup identifikasi potensi limbah, serah terima teknologi, serta pendampingan teknis kepada mitra desa.UB juga memberikan pelatihan produksi dan pemanfaatan biochar serta kompos di lahan pertanian, disertai evaluasi dampaknya terhadap kualitas tanah.“Dengan demikian, Desa Kuwonharjo diharapkan dapat menjadikan inovasi ini sebagai ciri khas daerah sekaligus sumber pengembangan ekonomi baru,” kata Nur Hidayat.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-01-13 07:50