- Saat ini, perhatian publik tertuju pada Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo usai Sri Susuhan Pakubuwono (PB) XIII meninggal dunia pada Minggu .Sebagaimana diketahui, PB XIII merupakan Raja Keraton Solo yang berkuasa sejak 10 September 2004. Empat gelar raja Jawa yang masih dikenal hingga kini seperti Pakubuwono, Hamengkubuwono, Paku Alam, dan Mangkunegara berasal dari masa setelah Kerajaan Mataram Islam pecah pada abad ke-18. Baca juga: Keraton Solo Ikuti Adat soal Pengganti PB XIII, Siapa Saja yang Berpeluang Naik Takhta?Keempatnya menjadi simbol lahirnya empat pusat kekuasaan baru di Jawa yang tetap menjaga tradisi dan kebudayaan Mataram hingga sekarang.Lantas, bagaimana sejarah Kerajaan Mataram Islam bisa terpecah dan apa makna keempat nama pemimpin dari empat wilayah tersebut?Dilansir dari Kompas, , Panembahan Senopati menderikan Kerajaan Mataram Islam berdiri pada 1586 di Kotagede, Yogyakarta. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bawah Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645) yang berhasil memperluas wilayah dan memperkuat pengaruh Islam di Jawa.Namun, setelah wafatnya Sultan Agung, hubungan dengan VOC (Belanda) memperlemah kedaulatan Mataram. Perebutan kekuasaan di antara penerusnya melahirkan konflik berkepanjangan. Puncaknya terjadi pada Perang Takhta Jawa III (1747–1757) yang melibatkan Pakubuwono II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said.Konflik itu berakhir dengan Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi kerajaan menjadi dua bagian, yakni:Dua tahun kemudian, Perjanjian Salatiga (1757) melahirkan Kadipaten Mangkunegaran, disusul Kadipaten Pakualaman pada 1813.Baca juga: Mengenang PB XIII: Raja Keraton Surakarta yang Naik Takhta di Masa Penuh TantanganDilansir dari Kompas.com, , Gelar Pakubuwono pertama kali digunakan oleh Pangeran Puger, raja Mataram Islam ketujuh. Gelar ini diteruskan oleh Pakubuwono II.Kemudian Pakubuwono II memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala dan mendirikan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 1745.Putranya, Pakubuwono III, menjadi penguasa Surakarta setelah Perjanjian Giyanti. Sejak itu, gelar Pakubuwono diwariskan turun-temurun hingga kini kepada Pakubuwono XIII yang baru saja meninggal.
(prf/ega)
Ada Pakubuwono dan Hamengkubuwono, Ini Makna Nama Gelar Raja Jawa
2026-01-12 03:25:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:16
| 2026-01-12 04:11
| 2026-01-12 02:51
| 2026-01-12 02:39










































