Kronologi Sopir Taksi Online Dibunuh Duo Perampok di Tol Jagorawi

2026-02-02 09:50:45
Kronologi Sopir Taksi Online Dibunuh Duo Perampok di Tol Jagorawi
Pembunuhan Ujang Adiwijaya (57), sopir taksi online yang mayatnya dibuang di pinggir Tol Jagorawi, Bogor, akhirnya terungkap. Polres Bogor menangkap dua pelaku, RS dan AH, sekaligus mengungkap motif perampokan di balik aksi keji tersebut.Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto menjelaskan peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin . Jasad korban ditemukan dalam kondisi terikat di tangan dan kakinya, di pinggir Tol Jagorawi, tepatnya di KM 30+800 pada sore hari."Jadi sore itu personel dari Poslek Citeureup mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa melihat sesosok mayat di pinggir Tol Jagorawi. Kemudian dilakukan pengecekan ke lokasi," kata Wikha dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Tegar Beriman, Bogor, Kamis .Tim Satreskrim Polres Bogor bergerak cepat melakukan identifikasi dan penyelidikan. Dari pemeriksaan sidik jari, polisi mengetahui identitas korban yang menjadi titik awal penyelidikan dimulai.Hasil visum jenazah ditemukan adanya sejumlah kekerasan pada tubuh korban. Polisi menduga kuat korban dibunuh."Diketahui bahwa korban meninggal karena menjadi korban kekerasan. Ada beberapa bekas kekerasan di tubuh korban, salah satunya ada luka dari di sekitaran leher dan bercak pendarahan di pundak kanan dan kiri, serta leher," jelasnya. Kasus ini bermula saat dua tersangka, RS dan AH, memesan taksi online. Sejak awal, keduanya sudah berniat melakukan perampokan dengan mencari korban secara acak.Orderan penumpang itu masuk ke aplikasi ojol milik korban. Kedua pelaku dijemput korban di kawasan Depok.Singkat cerita, dalam perjalanan, kedua pelaku melancarkan aksinya. Mereka menjerat leher korban dengan tali jemuran dan memukul kepala korban."Tersangka RS kemudian mengambil alih kemudi. Sempat berputar-putar ke beberapa lokasi untuk memastikan bahwa korban sudah meninggal dunia atau belum," imbuhnya.Setelah memastikan korban meninggal dunia, mereka sempat berhenti di counter elektronik untuk menjual ponsel korban. Hasil penjualannya digunakan untuk mengisi bensin, saldo kartu elektronik, dan lain-lain."Kemudian mereka kembali berkeliling sambil memastikan korban meninggal dunia. Kemudian setelah memastikan, di area Tol Jagorawi pelaku melambangkan tangan dan kaki korban, dan meninggalkan jenazah korban di pinggir tol Km 30+800," jelasnya.Kemudian, mobil yang dirampok pelaku tersebut sempat mogok di dekat Gerbang Tol (GT) Sentul Utara. Kedua tersangka memanggil mobil towing dan membawa mobil korban ke bengkel."Alhamdulillah mobilnya pun sudah ditemukan. Kemarin sudah kita amankan juga untuk barang bukti yang diambil tersangka. Nomornya sama, serinya juga sama, jadi dipastikan bahwa itu tadinya mau diambil oleh pelaku. Namun karena mogok dan diletakkan di salah satu bengkel di Citeureup," sebutnya. Setelah menaruh mobil di bengkel, kemudian kedua tersangka melarikan diri ke Ciamis. Keduanya ditangkap saat melakukan 'paniisan' di salah satu makam di Ciamis."Kedua tersangka saat ditahan sedang melakukan paniisan, atau berharap mendapatkan pertolongan dari hal-hal gaib yang dilakukan di salah satu tempat pemakaman di Ciamis. Jadi waktu ditangkap kondisinya kedua tersangka ini sedang melakukan paniisan," bebernya.Sejumlah barang bukti turut diamankan dalam kejadian itu. Di antaranya 1 buah mobil, 1 potongan lakban warna coklat dan hitam, 1 bed cover warna biru dipakai untuk bekap korban, tali jemuran merah untuk mencekik leher korban, 1 setel baju, 1 dus ponsel dan ponselnya."Kepada para pelaku disangkakan Pasal 365 ayat 4 KUHP yaitu pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian dan Pasal 340 KUHP pembunuhan berencana," pungkasnya.Saksikan Live DetikPagi:Simak Video 'Fakta Penemuan Mayat dengan Tangan-Kaki Terikat di Tol Jagorawi':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 09:06