PATI, - Kebijakan larangan impor pakaian bekas oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuat para pemburu pakaian bekas bereaksi.Mereka berpendapat bahwa kebijakan ini mengurangi pilihan pakaian berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.Salam (28), salah satu pembeli thrift dari Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, mengungkapkan keberatannya terhadap larangan tersebut.Menurutnya, pakaian bekas impor selama ini menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan.Baca juga: Larangan Impor Pakaian Bekas Bikin Pedagang Thrifting Pasar Baru Cemas: Nanti Mau Jualan Apa?"Sebagai pembeli baju thrift, sebenarnya saya cukup menyayangkan adanya larangan impor baju bekas. Soalnya, dari segi harga, pakaian bekas jauh lebih terjangkau dibanding produk baru di pasaran. Selain itu, kualitasnya juga bagus, bahkan banyak yang masih layak pakai atau berasal dari brand ternama luar negeri," ucapnya, Rabu .Salam menambahkan bahwa thrifting merupakan solusi bagi mereka yang ingin mendapatkan pakaian berkualitas dengan bujet terbatas.Selain itu, membeli baju bekas juga dianggap sebagai bentuk daur ulang yang ramah lingkungan, karena dapat membantu mengurangi limbah tekstil.Dia berharap pemerintah dapat menemukan jalan tengah, misalnya dengan memperketat seleksi impor agar hanya pakaian yang benar-benar layak pakai yang boleh masuk, bukan melarang semuanya."Mungkin pemerintah bisa mencari jalan tengah, misalnya dengan memperketat seleksi impor agar hanya baju yang benar-benar layak pakai yang boleh masuk, bukan langsung melarang semuanya,” tegasnya.Baca juga: Larangan Purbaya Impor Pakaian Bekas dan Upaya Menjaga Napas Pelaku Fashion LokalPendapat serupa disampaikan oleh Juriyanto, 34 tahun, yang berasal dari Desa Ngemplak, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.Ia menekankan bahwa thrift shop menjadi tempat terbaik untuk menemukan barang berkualitas dengan harga terjangkau."Kalau di pasar pakaian bekas, barangnya bagus dan harganya murah. Apalagi, pilihan pakaiannya beragam. Sehingga saya lebih pilih membeli pakaian bekas," jelasnya.Juriyanto berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan larangan impor pakaian bekas ini.Menurutnya, pakaian bekas bukan sekadar barang bekas, tetapi juga alternatif ekonomi dan gaya hidup berkelanjutan.Baca juga: Purbaya Bakal Larang Impor Pakaian Bekas, Pedagang Surabaya: Kami Mau Makan dari Mana?“Harapannya pemerintah bisa lebih bijak. Jangan langsung dilarang total, tapi dibuat aturan yang jelas dan terarah. Soalnya kami beli baju thrift karena harganya terjangkau tapi kualitasnya bagus,” harapnya.Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir praktik impor pakaian ilegal yang dapat merugikan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta industri tekstil nasional.Kementerian Keuangan berencana menindak tegas praktik impor pakaian bekas ilegal."Hari ini, Jumat , saya melakukan kunjungan lapangan ke Tempat Penimbunan Pabean di Cikarang, Jawa Barat, memastikan pengawasan terhadap rokok ilegal dan pakaian impor berjalan efektif," pungkasnya.
(prf/ega)
Pembeli Pakaian Bekas di Pati Keberatan Larangan Impor: Padahal Kualitas Bagus, Harga Terjangkau
2026-01-12 06:48:04
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:09
| 2026-01-12 07:08
| 2026-01-12 07:08
| 2026-01-12 05:46
| 2026-01-12 05:45










































