– Hasil pemeriksaan laboratorium kerap menunjukkan angka trigliserida dan kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) yang sama-sama tinggi.Namun, beberapa orang mungkin masih bingung membedakan dampak kesehatan dari kedua jenis lemak darah tersebut.Sebagian orang menganggap trigliserida tinggi lebih berbahaya karena angkanya sering terlihat mencolok dalam hasil cek kesehatan.Baca juga: Trigliserida Tinggi Tidak Boleh Makan Apa? Berikut 6 Daftarnya…Sementara itu, kolesterol LDL kerap dianggap “biasa saja” selama belum menimbulkan keluhan yang dirasakan langsung.Padahal, pemahaman yang keliru mengenai trigliserida dan LDL dapat membuat seseorang salah menentukan prioritas dalam menjaga kesehatan, terutama terkait risiko penyakit jantung dan stroke yang kerap berkembang tanpa gejala awal.Ahli penyakit dalam dan kardiovaskular, Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., K-KV., menjelaskan meskipun keduanya tercantum dalam profil lemak darah, ancaman utama bagi pembuluh darah dan organ vital berasal dari LDL.“Sebetulnya yang paling berbahaya untuk jantung itu LDL. Bukan hanya jantung, tapi juga stroke,” ujar Birry saat mengisi seminar kesehatan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Selasa , dikutip dari AFP.Kepala Departemen Kardiovaskular Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan perbedaan risiko utama dari kedua jenis lemak darah tersebut.Jika kadar trigliserida sangat tinggi, biasanya di atas 400, 500, bahkan hingga 1.000 mg/dL, risiko utama yang mengancam adalah pankreatitis atau radang pankreas.Pankreatitis merupakan kondisi serius karena dampaknya bisa meluas.Baca juga: Trigliserida Tinggi di Angka Berapa? Berikut Penjelasannya…Selain berpotensi menimbulkan infeksi berat (sepsis), peradangan pankreas juga dapat mengganggu fungsi usus dan menghambat produksi insulin, yang pada akhirnya memicu lonjakan kadar gula darah.Karena itu, meskipun pencegahan penyakit kardiovaskular lebih difokuskan pada penurunan LDL, pengendalian trigliserida tetap penting agar tidak mencapai kadar yang sangat tinggi dan menimbulkan komplikasi metabolik yang berbahaya.Data Kementerian Kesehatan (2025) menunjukkan sekitar 800.000 orang di Indonesia meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahun.Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 melaporkan bahwa tiga dari sepuluh penyebab kematian terbanyak di Indonesia berasal dari kelompok penyakit kardiovaskular, yakni stroke (140,8 per 100.000 penduduk; peringkat kedua), penyakit jantung iskemik (90,4; peringkat ketiga), dan penyakit jantung hipertensi (20,9; peringkat kedelapan).Baca juga: Apa Pantangan Trigliserida Tinggi? Berikut 7 Daftarnya…Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 286 juta jiwa, peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kadar kolesterol jahat (LDL-C) serendah mungkin menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular.LDL-C dikenal sebagai “kolesterol jahat” karena dapat menumpuk di dinding pembuluh darah, memicu peradangan, menyebabkan penyempitan pembuluh darah, dan menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung serta stroke.Birry menegaskan, pengendalian LDL merupakan investasi kesehatan jangka panjang.“Dengan disiplin menjalani modifikasi gaya hidup dan mengikuti rekomendasi medis, risiko penyakit kardiovaskular bisa ditekan secara signifikan,” paparnya.
(prf/ega)
Pahami Beda Trigliserida dan LDL Tinggi, Mana yang Lebih Berbahaya bagi Jantung?
2026-01-11 23:09:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:57
| 2026-01-11 22:23
| 2026-01-11 21:59
| 2026-01-11 21:08
| 2026-01-11 20:57










































