Ekonom INDEF: Biaya Implementasi Redenominasi Rupiah Akan Sangat Mahal

2026-02-04 18:50:57
Ekonom INDEF: Biaya Implementasi Redenominasi Rupiah Akan Sangat Mahal
JAKARTA, -Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai, pelaksanaan kebijakan redenominasi rupiah akan menelan biaya besar karena melibatkan banyak penyesuaian teknis dan sosialisasi publik.Tauhid menjelaskan, redenominasi merupakan kebijakan penyederhanaan nilai mata uang dengan menghapus angka nol di belakang nominal tanpa mengubah nilai riil di masyarakat.Ia menilai, biaya tinggi menjadi tantangan utama bagi pemerintah saat kebijakan itu diterapkan.“Biaya implementasi ini cukup mahal,” kata Tauhid saat dihubungi Kompas.com, Minggu .Baca juga: Ekonom INDEF Peringatkan Risiko Inflasi dan Rent Seeker di Balik Redenominasi RupiahMenurutnya, penyederhanaan rupiah akan memerlukan penyesuaian sistem di berbagai sektor, mulai dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM), sistem teknologi informasi (IT), mesin percetakan, hingga kasir ritel.Selain biaya teknis, pemerintah juga perlu mengeluarkan dana besar untuk sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa pemotongan angka rupiah tidak menurunkan nilai uang.Tauhid menegaskan, sosialisasi yang masif penting dilakukan karena redenominasi menyentuh aspek psikologis publik, terutama soal kepercayaan terhadap mata uang.“Saya kira itu bisa terjadi karena tadi redenominasi bisa diartikan devaluasi, penurunan nilai mata uang,” ujar Tauhid.Ia mengingatkan, pengalaman masa lalu ketika pemerintah memotong nilai rupiah masih membekas di sebagian masyarakat.“Karena kan kita pernah melakukan itu pada zaman saya lupa ya, pemotongan uang yang tadinya nilainya separuh. Kalau ini kan nilainya bukan separuh, cukup dominan,” tambahnya.Baca juga: Dulu DitolaK MK, Purbaya Target Redenominasi Rupiah Rp 1.000 Jadi Rp 1 Rampung 2027Meski begitu, Tauhid menilai redenominasi tetap membawa manfaat seperti kemudahan transaksi, efisiensi, serta peningkatan posisi tawar rupiah terhadap mata uang asing yang nilainya lebih rendah.“Saya kira itu manfaatnya plus juga challenging-nya,” ujar dia.Rencana redenominasi rupiah tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah yang disusun oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Melalui kebijakan ini, uang Rp 1.000 akan menjadi Rp 1 tanpa mengubah nilai tukarnya di lapangan.Rencana itu masuk dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025–2029. Pemerintah menargetkan RUU Redenominasi rampung pada 2027.“RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi) merupakan RUU luncuran yang rencananya akan diselesaikan pada tahun 2027,” tertulis dalam PMK yang diteken pada 10 Oktober 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 18:25