JAKARTA, – Di tengah gempuran transportasi modern, perahu eretan di Kali Gendong, Cilincing, Jakarta Utara, tetap eksis dan menjadi andalan warga.Puluhan eretan ini membantu pengendara memotong jalur, menghemat waktu, dan menjadi sarana transportasi vital bagi masyarakat serta pekerja industri sekitar.Hingga kini, sekitar 30 perahu eretan masih beroperasi di Kali Gendong, dengan jarak antar perahu sekitar 200 meter. Kali ini memiliki lebar sekitar 15 meter dan diapit oleh pemukiman padat serta kawasan industri.Banyak warga dan pengendara motor memanfaatkan eretan ini untuk menyebrang atau memotong jalan, karena jika memutar melalui jalur biasa, perjalanan bisa bertambah hingga tiga kilometer.Baca juga: Masih Andalkan Perahu Eretan, Warga Kapuk Muara Harap Ada Jembatan ke PIKKondisi jalan di sepanjang kali cukup rusak, belum beraspal, dan dipenuhi bebatuan serta pasir. Saat musim panas, jalan berdebu, sementara saat hujan menjadi licin, membuat eretan menjadi pilihan lebih aman dan nyaman.Beberapa eretan masih ditarik menggunakan tambang, sementara eretan lain sudah dibangun menyerupai jembatan kayu sehingga pengendara dan pejalan kaki bisa melintas dengan mudah.Eretan yang menyerupai jembatan lebih ramai digunakan dibanding yang harus ditarik dengan tambang./ SHINTA DWI AYU Moza (35) penjaga eretan di Kali Gendong, Cilincing, Jakarta Utara.Idan (32), pemilik salah satu eretan, menjelaskan, sebagian besar pengguna jasa perahu ingin memotong jalan.“Masih ada aja orang yang lewat kalau mau cepat, misal dari Cilincing ke Malaka Rorotan, lebih lama lewat Marunda kan, jadi mereka lebih milih lewat sini,” ujar Idan.Jika melalui jalur biasa, perjalanan dari Cilincing ke Malaka membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sedangkan naik eretan hanya 15 menit. Selain itu, eretan juga digunakan untuk rute menuju Jakarta Timur. Kali Gendong berada di perbatasan wilayah Cakung Jakarta Timur dan Cilincing, Jakarta Utara.Baca juga: Modal Rp 2.000, Warga Bisa Naik Perahu Eretan di Kapuk Muara untuk Hindari Macet“Kadang orang berangkat kerja, pulang kerja, ini kan jalan pintas karena kalau mutar jauh. Orang yang lewat sini biasanya mau ke JGC, AEON, kalau mutar jauh banget, ini jalan pintas," ucap Moza (35), penjaga eretan lainnya.Setiap pengendara membayar tarif Rp 2.000 untuk melintas di eretan yang dijaga Moza. Namun, ia tidak memaksa pembayaran, beberapa pengendara hanya membayar Rp 1.000 atau bahkan tidak membayar."Ratusan motor setiap hari lewat sini, tapi banyak yang enggak bayar, bilang bakal balik lagi, enggak balik lagi," tutur Moza.Beberapa pengendara lain membayar lebih dari tarif resmi. Tarif eretan lain bervariasi antara Rp 1.000–2.000 per penumpang, tergantung pemiliknya.
(prf/ega)
Eksistensi Perahu Eretan di Kali Gendong Jakut, Bertahan di Tengah Modernisasi Transportasi
2026-01-12 05:09:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:20
| 2026-01-12 04:07
| 2026-01-12 03:35
| 2026-01-12 03:05
| 2026-01-12 03:03










































