Biasakan Ganti Oli Motor Matik Teratur Agar Komponen Mesin Awet

2026-02-04 10:01:56
Biasakan Ganti Oli Motor Matik Teratur Agar Komponen Mesin Awet
TANGERANG, - Konsumen perlu membiasakan untuk mengganti oli motor matik secara teratur, tanpa menunggu terjadi kerusakan atau performa menurun.Penggantian oli mesin disarankan tiap 2.000 Km sampai 3.000 Km, tergantung kondisi mesin dan pemakaian. Pasalnya, volume oli bisa saja habis lebih cepat karena panas.Jangan sampai mesin motor kehabisan oli yang ujung-ujungnya membuat komponen rusak dalam skala besar.Baca juga: Sejarah Motor Ural Motorcycles, Motor Perang Dipakai Buat SipilUntuk semakin mendekatkan diri dengan konsumen, Federal Oil™ menghadirkan kegiatan Feders Gathering - Zona Nyaman di kota Semarang dan Surabaya.Kegiatan ini menjadi ruang interaktif bagi konsumen dan komunitas untuk mengenal lebih jauh produk Federal Oil™ khususnya Federal Matic spesialis dingin, mendapatkan edukasi seputar pelumas, serta berpartisipasi langsung dalam program konsumen berhadiah.Baca juga: Ganti Oli Transmisi Matik Idealnya Setiap 20.000 Km di Iklim Tropis, Ini AlasannyaIST Ilustrasi oli motor matikMelihat tingginya minat konsumen, Federal Oil™ juga menambahkan dua varian pelumas unggulan ke dalam program ini, yaitu Federal Racing Matic 10W-30 (0.8L) dan Federal Racing Matic 10W-40 (1L).Kedua produk full synthetic ini dirancang untuk memberikan performa tinggi dan kenyamanan maksimal, terutama bagi pengguna motor matic yang aktif berkendara di berbagai kondisi.Rommy Averdy Saat, Market Development General Manager PT EMLI, menyampaikan pihaknya ingin konsumen merasakan manfaat dari program tersebut.Baca juga: Jangan Sering Gonta-ganti Oli Mesin MobilPenambahan produk dan perpanjangan periode adalah bentuk komitmen kami untuk terus memberikan nilai lebih, sekaligus mengedukasi pentingnya menggunakan pelumas asli dan sesuai spesifikasi dari Federal Oil™,” ucap Rommy dalam keterangan resminya.Program konsumen Federal Oil™ ini berlaku untuk setiap pembelian produk Federal Matic dan Federal Racing Matic series. Cara ikutan programnya adalah dengan melakukan scan QR pada poster yang terdapat di FOC bertanda khusus.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-04 09:07