Fakta Baru Penembakan Bondi Beach: Keluarga di India Tak Tahu Pelaku Radikal

2026-01-13 12:16:54
Fakta Baru Penembakan Bondi Beach: Keluarga di India Tak Tahu Pelaku Radikal
– Keluarga Sajid Akram, salah satu pelaku penembakan yang menewaskan 15 orang di acara Hanukkah di Bondi Beach, Sydney, mengaku tak mengetahui bahwa ia telah terpapar paham radikal.Pihak kepolisian India menyatakan bahwa keluarga Sajid di negara bagian Telangana, India selatan, memiliki kontak yang sangat terbatas dengannya sejak ia pindah ke Australia pada 1998.“Dia hanya enam kali pulang ke India, kebanyakan untuk mengurus urusan properti atau mengunjungi orangtua yang sudah lanjut usia. Ia bahkan tidak hadir saat pemakaman ayahnya,” ujar seorang pejabat kepolisian Telangana kepada BBC.Baca juga: Tragedi Bondi Beach: Jadi Serangan Teroris Tersadis sejak 1996Pihak keluarga juga mengaku tidak mengetahui pola pikir atau aktivitas Sajid yang mengarah pada radikalisasi.Dalam pernyataannya, polisi India menegaskan bahwa proses radikalisasi Sajid Akram tidak dipengaruhi oleh lingkungan di India maupun faktor lokal di Telangana.Sebelum pindah ke Australia, Sajid diketahui menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang perdagangan dan tidak memiliki catatan kriminal.Ia kemudian menikah dengan perempuan asal Eropa dan memiliki dua anak, keduanya berkewarganegaraan Australia.Sajid Akram disebut melancarkan serangan di Bondi bersama putranya, Naveed Akram (24). Sajid tewas ditembak polisi saat kejadian pada Minggu .Sementara Naveed sempat kritis dan kini dirawat di rumah sakit setelah siuman pada Selasa .Naveed telah didakwa dengan 15 tuduhan pembunuhan. Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, menyebut penyelidik kini menunggu kondisi Naveed stabil dan ia memperoleh penasihat hukum sebelum bisa diinterogasi.Baca juga: Australia Perketat Aturan Senjata Api Usai Penembakan Bondi Beach, Seperti Apa Rencananya?Pihak berwenang Australia mengungkap bahwa Sajid dan Naveed sempat menghabiskan hampir seluruh bulan November di Filipina.Dikutip dari The Independent pada Rabu , sumber keamanan menduga kunjungan tersebut berkaitan dengan pelatihan bergaya militer.Pihak Imigrasi Australia menyebut Sajid masuk Filipina menggunakan paspor India dan mencantumkan Davao sebagai tujuan.Dana Sandoval, juru bicara imigrasi Australia, turut membenarkan informasi tersebut.Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan, penembakan massal ini diduga kuat dimotivasi oleh ideologi ekstremis. Ia menyebut keterkaitannya dengan paham ISIS.Media setempat melaporkan, Naveed pernah diawasi otoritas pada 2019 atas dugaan keterlibatan dalam sel ISIS di Sydney. Namun, saat itu ia dinilai tidak menimbulkan ancaman serius atau potensi kekerasan.Sebagai respons atas tragedi tersebut, Pemerintah New South Wales akan mempercepat pengesahan undang-undang senjata api.Baca juga: 8 Fakta Penembakan Bondi Beach: Identitas Pelaku, Korban Warga Asing, dan Motif SeranganPolisi juga memperketat pengamanan di sejumlah pemakaman dan upacara peringatan di Sydney, terutama yang melibatkan komunitas Yahudi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-01-13 12:03