Sejarah Hari Guru Nasional: Dari Organisasi Guru 1912 hingga PGRI sebagai Penggerak Kesejahteraan Guru

2026-01-11 20:32:53
Sejarah Hari Guru Nasional: Dari Organisasi Guru 1912 hingga PGRI sebagai Penggerak Kesejahteraan Guru
KOMPAS.COM- Setiap 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap peran strategis guru dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan pendidikan nasional.Peringatan ini sekaligus menandai hari ulang tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), organisasi profesi guru yang telah berjuang sejak masa kolonial hingga era reformasi.Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat.Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.Penetapan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, bertepatan dengan HUT PGRI, untuk mengenang peran guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.Baca juga: Hari Guru Nasional 25 November 2025, Ini Sejarah Perjuangannya Perjuangan organisasi guru di Indonesia dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Pada tahun 1912, lahirlah Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) sebagai wadah pertama yang menyatukan guru-guru pribumi.Kelahiran PGHB terinspirasi dari gerakan pekerja lain seperti Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel in Nederlands Indie (VSTV) yang lahir pada 1908, yang menunjukkan kekuatan perjuangan buruh dalam memperjuangkan upah yang wajar.PGHB mewadahi guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pengawas sekolah pedesaan yang mengajar dalam bahasa daerah dan Melayu.Organisasi ini bertujuan menyatukan guru pribumi dan memperjuangkan hak-hak mereka, seperti persamaan upah dan kedudukan dengan pegawai Belanda.Perbedaan sistem persekolahan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda seperti Kweekschool, Hogere Kweekschool (HKS), dan Hollands-Inlandse Kweekschool (HIK) menciptakan kesenjangan gaji yang memicu persaingan antar golongan guru.Setiap lulusan sekolah guru memiliki serikat kerja masing-masing menurut ijazahnya, yang berakibat menimbulkan pertentangan dan akhirnya memicu gerakan memperjuangkan perbaikan nasib, perbaikan golongan, serta posisi yang wajar dan adil.Momentum penting terjadi pada 1932, ketika PGHB berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) untuk mencerminkan semangat nasionalisme. Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah Belanda karena istilah "Indonesia" melambangkan perlawanan kolonial.Organisasi guru lain yang muncul termasuk Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), dan Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), serta kelompok berbasis agama seperti Katolieke Onderwijsbond (KOB) dan Christelijke Onderwijs Vereneging (COV).Peran guru saat itu mencakup pembentukan sekolah untuk pribumi, penanaman nasionalisme, dan tuntutan hak seperti gaji setara.Baca juga: Karier Jenderal Soedirman: Dari Guru Muhammadiyah hingga Panglima TNINationaal Archief/Hesselman Seorang pria Belanda berfoto bersama anak-anak sekolah dasar di Sekolah Pertama Gadog, Jawa Barat, 15 November 1947Selama pendudukan Jepang, organisasi guru independen dilarang, dan guru dipaksa bergabung dalam kelompok seperti Putera dan Jawa Hokokai, termasuk Kyoiku Hokokai untuk pendidik, guna mendukung perang Asia Timur Raya.


(prf/ega)