Limbah Cair Sawit Disetujui Jadi Bahan Bakar Pesawat, Jadi Peluang Baru untuk Indonesia

2026-01-11 22:03:59
Limbah Cair Sawit Disetujui Jadi Bahan Bakar Pesawat, Jadi Peluang Baru untuk Indonesia
-Kementerian Perhubungan menyatakan International Civil Aviation Organization (ICAO) resmi menyetujui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF).Pengakuan ini membuka jalan bagi Indonesia untuk masuk pasar SAF global dengan modal bahan baku yang besar.Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyebut Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik sawit kini diakui ICAO sebagai bahan baku SAF yang kompetitif.“Mampu memberikan emission saving hingga 8 persen dibandingkan bahan bakar fosil. Ini adalah momentum besar bagi Indonesia untuk memasuki pasar SAF global,” kata Lukman dalam keterangan di Jakarta, Kamis .Baca juga: Limbah Cair Sawit, Pencemar Lingkungan yang Berpotensi Jadi Sumber Energi TerbarukanPenggunaan SAF menjadi agenda prioritas ICAO melalui program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA).Indonesia terlibat aktif dalam proses tersebut, terutama lewat pengajuan perhitungan nilai default Core LCA Default Value untuk SAF berbahan baku POME.“Indonesia sebagai negara anggota ICAO berkomitmen untuk menjadi salah satu produsen utama SAF mengingat besarnya potensi bahan baku yang dimiliki,” ujar Lukman. Ia menuturkan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dilakukan selama proses pengajuan nilai default LCA.POME merupakan residu dari produksi Crude Palm Oil (CPO). ICAO memasukkannya dalam positive list bahan baku, sehingga SAF berbasis POME dinilai memiliki potensi penurunan emisi yang besar.“Pada Januari 2025, Kemenhub melalui Indonesia CAEP Member telah mengajukan perhitungan nilai LCA Default Value untuk SAF berbahan baku POME,” kata Lukman.Baca juga: Inovasi Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Cat dan Karet Terhadang RegulasiSetelah serangkaian penilaian di CAEP, ICAO Council pada akhir November 2025 menyetujui nilai default tersebut.Nilainya ditetapkan 18,1 gram CO?/MJ, tertera dalam dokumen ICAO ‘CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels’ pada kategori HEFA Conversion Process.


(prf/ega)