Ilmuwan Iran Dieksekusi Mati, Disebut Mengaku Mata-mata Israel Setelah Ibunya Diancam

2026-02-01 22:17:50
Ilmuwan Iran Dieksekusi Mati, Disebut Mengaku Mata-mata Israel Setelah Ibunya Diancam
TEHERAN, - Seorang kerabat Rouzbeh Vadi, ilmuwan nuklir Iran yang dieksekusi mati pada Agustus 2025, mengungkapkan apa yang telah dialami keluarganya.Anggota keluarga bernama Vahid Razavi itu mengatakan, Rouzbeh ditahan sekitar 18 bulan usai dituduh menjadi mata-mata Israel."Rouzbeh disiksa dengan sangat kejam, sampai-sampai tulang di kakinya dan dua tulang rusuknya patah, lalu ibunya ditangkap dan dipenjara," ujarnya, dikutip dari Iran International.Menurutnya, para penyidik juga memotret ibu Rouzbeh yang telah ditahan dan menunjukkannya untuk mendapat pengakuan paksa jadi mata-mata Israel.Jika tidak mengakui, ibunya diancam akan disiksa.Baca juga: Iran Temukan Alat Spionase Canggih Saat Tangkap Mata-mata Israel"Mereka memberitahu Rouzbeh bahwa jika dia tidak mengaku melakukan spionase dan setuju untuk tampil dalam wawancara televisi, mereka akan menyiksa ibunya," kata Vahid.Untuk diketahui, Rouzbeh merupakan doktor bidang teknik reaktor. Pada 2011, ia pernah menulis sebuah makalah bersama para ahli nuklir senior Iran yang tewas dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025.Rouzbeh dihukum karena membagikan informasi rahasia tentang salah satu ilmuwan yang tewas dalam serangan tersebut kepada Mossad.Menurut Vahid, Rouzbeh terpaksa menerima apa yang disebutnya sebagai tuduhan palsu dengan syarat-syarat tersebut.Baca juga: Iran Adili Mata-mata Israel Selama Perang 12 Hari, Ada Bukti Alat Spionase Canggih Saat DitangkapSebagai informasi, Rouzbeh yang merupakan anggota Nuclear Science and Technology Research Institute ini dieksekusi pada 6 Agustus 2025.Menurut hakim, ilmuwan tersebut telah direkrut secara online oleh Mossad.Pengakuan Rouzbeh yang disiarkan di televisi pemerintah disebut menjadi satu-satunya dasar untuk vonis tersebut.Vahid menilai, pihak berwenang bertindak cepat setelah konflik 12 hari pada bulan Juni dan melaksanakan eksekusi tanpa memberitahu keluarga.Ia juga mempertanyakan pernyataan media pemerintah bahwa kerabatnya menerima tas hitam berisi uang tunai. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-01 21:51