Guru Indonesia Dinilai Masih Kurang Kompeten di Mapel Kimia, Fisika, hingga Bahasa Inggris

2026-01-12 04:23:55
Guru Indonesia Dinilai Masih Kurang Kompeten di Mapel Kimia, Fisika, hingga Bahasa Inggris
- Guru-guru di Indonesia dinilai masih kurang memiliki kompetensi pada beberapa mata pelajaran (Mapel) di sekolah.Menurut Presiden Prabowo Subianto, guru-guru di Indonesia kurang memiliki kompetensi di mapel Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Selain itu, juga kurang pada mapel matematika, biologi, kimia, hingga fisika."Kita tahu ada berapa mata pelajaran di mana guru-guru kita kurang kompetensinya. Tidak salah seperti Bahasa Inggris, bahasa asing, Matematik, Biologi, Kimia, Fisika," kata Prabowo di SMPN 4 Kota Bekasi, Jakarta, Senin .Oleh karena itu, pemerintah meluncurkan program digitalisasi untuk melakukan lompatan di bidang pendidikan termasuk peningkatan kompetensi guru. Baca juga: 2 Bahasa Asing Masuk Kurikulum, Ada yang Jadi Mapel Wajib Tahun 2027 Melalui program digitalisasi sekarang sekolah-sekolah telah diberikan papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) yang akan menyiarkan materi-materi pembelajaran untuk guru dan siswa.Bahkan pemerintah akan segera membuka studio khusus di Jakarta untuk guru-guru menbuat materi pembelajaran yang akan disiarkan."Kita akan segera buka studio di Jakarta. Guru-guru akan memberi pelajaran ke semua sekolah di Indonesia," ujarnya.Prabowo menjelaskan, materi pembelajaran itu bisa digunakan oleh guru-guru di daerah manapun dan bisa diakses secara gratis."Guru di daerah yang merasa perlu perkuatan, dia bisa buka dan semua modul ini nanti boleh diakses gratis oleh siapapun. Semua ini akan terbuka untuk seluruh bangsa Indonesia," jelas Prabowo.Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa program digitalisasi pembelajaran ini merupakan wujud nyata amanat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Pembangunan dan Pengelolaan Sekolah Menengah Atas Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran dan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025. Baca juga: Skor PISA Siswa Indonesia Rendah, Guru di Semarang Inovasi Buku Pop-up "Program digitalisasi pembelajaran ini mulai dilaksanakan pada 15 Agustus 2025 untuk 288.865 sekolah. Sampai 16 November 2025, proses pengirimannya sudah mencapai 215.572, di mana sebanyak 173 ribu sudah tiba di sekolah. Jumlah ini merupakan 75 persen dari total yang akan dibagikan sampai Desember tahun 2025," kata Mu'ti.Mu'ti menjelaskan program ini terdiri atas penyediaan IFP, laptop, materi pembelajaran, dan pelatihan bagi para guru. IFP juga dilengkapi dengan aplikasi Rumah Pendidikan, yang menyatukan berbagai layanan pendidikan digital dalam satu pintu.Rumah Pendidikan terdiri atas delapan ruang terintegrasi dengan konten video pembelajaran interaktif, artikel, laboratorium maya, gim edukasi, hingga latihan soal, yang memudahkan guru dan peserta didik dalam mengakses berbagai sumber belajar digital.Terkait bimbingan teknis pemanfaatan IFP, Kemendikdasmen telah melaksanakan pelatihan bagi 64.000 guru. Pelatihan juga didorong dengan menempatkan Pejuang Pendidikan Digital sebagai garda terdepan, yaitu 1.450 guru dan tenaga kependidikan yang berperan sebagai mentor dalam membantu sekolah menerapkan pembelajaran dengan IFP dan Rumah Pendidikan.Selain itu, upaya ini turut didukung oleh alumni LPDP yang berkontribusi sebagai fasilitator dan pendamping pembelajaran interaktif.


(prf/ega)