JAKARTA, - Di sepanjang Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, trotoar dan tepi rel kereta yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki justru menjadi ruang hidup bagi warga kolong, sebutan untuk orang-orang jalanan.Mereka tetap memilih bertahan di ruang publik tersebut meski petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) rutin melakukan patroli dan penertiban.Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, menilai fenomena ini berkaitan erat dengan faktor ekonomi dan struktur pendapatan yang menempatkan mereka pada posisi termarjinalkan.Baca juga: Lapis Kedua Menteng, Warga Kolong Tinggal di Trotoar dan Tepi Rel Kereta“Ruang yang mereka pakai itu paling mudah dan gratis. Kemampuan untuk menyewa rumah atau kontrak sangat terbatas, bahkan hampir tidak mungkin,” kata Yayat saat dihubungi, Jumat ./Lidia Pratama Febrian Keterbatasan Ekonomi Membuat Warga Kolong di Menteng Tetap Bertahan Meski Tinggal di JalananIa menjelaskan, warga kolong memilih lokasi strategis, dekat dengan sumber mata pencaharian, misalnya area permukiman elite yang menyediakan banyak sampah daur ulang.Gerobak yang mereka bawa berfungsi ganda sebagai alat kerja sekaligus tempat tinggal sementara.“Mereka mencari tempat yang dekat fasilitas umum, seperti WC umum atau taman untuk kebutuhan sanitasi,” tuturnya.Kepala Satpol PP Jakarta Selatan Nanto Dwi Subekti menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan penjangkauan dan patroli rutin.“Patroli rutin dilakukan setiap hari. Kami hanya melakukan penjangkauan dulu. Kalau ada yang bandel, baru dilakukan penertiban humanis. Jika kedapatan saat operasi PMKS, warga dikirim ke panti sosial,” ujarnya.Di sisi lain, warga sekitar sudah terbiasa melihat keberadaan warga kolong.Riyan (31), pengemudi ojek pangkalan yang biasa mangkal dekat lintasan rel Jalan Guntur, menilai hal tersebut wajar.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek Jakarta“Kasihan sih sama mereka, tapi hidup di Jakarta memang menuntut siap minimal punya duit untuk tempat tinggal. Kalau tidak ada bantuan atau alternatif, ya mereka balik lagi ke trotoar atau kolong,” katanya.Ningsih (45), pemilik warung kecil di sekitar lintasan rel, menambahkan bahwa meski kolong jembatan dibongkar atau warga dipindahkan, warga kolong sering kembali.“Kalau hujan mereka pergi sebentar, tapi balik lagi ke kolong atau trotoar. Ada bantuan dari pemerintah, tapi tidak banyak mengubah perilaku mereka. Kayaknya memang milih hidup di jalan,” ujarnya.Bagi warga kolong, bertahan hidup di trotoar atau kolong bukan pilihan, tapi kebutuhan.
(prf/ega)
Keterbatasan Ekonomi Buat Warga Kolong Bertahan Tinggal di Jalanan Menteng
2026-01-12 03:23:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:57
| 2026-01-12 03:14
| 2026-01-12 03:03
| 2026-01-12 02:36
| 2026-01-12 02:06










































