Banjir Bandang Bireuen Aceh, Kisah Dua Lansia Kehilangan Rumah dan Harapan di Usia Senja

2026-01-12 09:05:52
Banjir Bandang Bireuen Aceh, Kisah Dua Lansia Kehilangan Rumah dan Harapan di Usia Senja
- Di atas lantai rumah yang dingin dan masih berlumur lumpur, dua perempuan lanjut usia itu duduk berdampingan. Tak ada lagi dinding, apalagi atap. Yang tersisa hanyalah pertapakan rumah, penanda bisu bahwa di tempat itulah dulu kehidupan mereka bernaung.Nafsiah (65) dan kakaknya, Salbiah (70), dua lansia sekandung asal Desa Pante Baro Gle Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, kehilangan segalanya setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut.Di usia senja, mereka harus menerima kenyataan pahit yakni rumah yang dibangun dan ditinggali bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam.Sabtu siang, keduanya kembali ke lokasi rumah.Baca juga: DKI Distribusikan 1,4 Ton Cabai Berkualitas Asal Aceh, Dijual di Bawah Harga PasaranBukan untuk membangun ulang, melainkan sekadar berharap masih ada barang yang bisa diselamatkan dari reruntuhan. Harapan sederhana, namun terasa berat bagi dua nenek yang saat bencana hanya mampu menyelamatkan diri dengan pakaian di badan.Dengan kerudung merah yang warnanya mulai pudar, Nafsiah menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Salbiah lebih banyak terdiam, seolah berusaha mengingat kembali rupa rumah yang kini hanya tinggal kenangan.“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Habis dihantam banjir,” ucap Nafsiah lirih, suaranya nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk warga yang masih membersihkan lumpur.Banjir bandang itu datang pada Rabu malam, sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan deras mengguyur tanpa jeda. Gemuruh air terdengar semakin dekat, semakin mengancam. Tak lama kemudian, air naik dengan cepat.Tanpa sempat berpikir panjang, Nafsiah dan Salbiah bergegas keluar rumah.Tak ada waktu mengambil kain, apalagi barang berharga. Mereka hanya berpegangan satu sama lain, lalu menumpang di sebuah rumah permanen milik warga.Malam terasa begitu panjang. Air tak kunjung surut hingga pagi menjelang. Saat ketinggian air sudah mencapai leher, keduanya terpaksa berenang mencari tempat yang lebih aman.“Kami keluar hanya dengan baju di badan. Tidak sempat ambil apa-apa,” kenang Nafsiah.Baca juga: Menembus Banjir, Relawan Universitas Sunan Gresik dan Barakasra Bawa Bantuan dan Harapan ke Aceh TamiangSejak malam itu, mereka mengungsi bersama ratusan warga lain di salah satu dayah di desa. Hari-hari dijalani dengan satu tas kecil berisi barang seadanya.Kini, ketika kembali ke lokasi rumah, pemandangan yang tersisa sungguh memilukan. Atap rumah mereka tersangkut di dahan pohon. Piring, kendi air, dan perabot rumah tangga bercampur dengan kayu-kayu besar yang dibawa arus banjir.Pandangan mata kedua lansia itu tampak kosong.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Hingga kini, tolok ukur tersebut baru mampu dicapai Ducati, yang mendominasi klasemen konstruktor dengan enam gelar juara beruntun.Honda tercatat sebagai pabrikan pertama yang naik level dalam sistem konsesi sejak skema A-B-C-D diberlakukan pada awal 2024.Honda berhasil melampaui ambang batas 35 persen poin, sehingga berhak bergabung dengan KTM dan Aprilia di kategori C.Baca juga: Cara Mengecas Motor Listrik yang Bikin Baterai AwetDengan perubahan itu, Yamaha kini menjadi satu-satunya pabrikan yang masih berada di kategori D.Dok. HRC Aleix Espargaro menjadi pebalap tes untuk Honda Racing Corporation (HRC)Kondisi tersebut membuat Yamaha tetap menikmati konsesi penuh, termasuk kebebasan pengembangan mesin serta tes privat bersama pebalap utama.“Ini soal di mana kami harus berada, kami harus ada di A. Jadi ini adalah langkah pertama yang logis yang harus kami lakukan,” kata Espargaro, dikutip dari Crash, Selasa .Kenaikan peringkat Honda tidak lepas dari performa solid pada akhir musim 2025.Pada seri penutup musim, Luca Marini finis di posisi ketujuh, hasil krusial yang dibutuhkan Honda untuk melampaui ambang batas poin konsesi.Baca juga: Persiapan Touring Libur Nataru: Ini Item yang Harus Dibawa BikerSelain Marini, performa positif juga ditunjukkan Joan Mir yang meraih beberapa podium, serta Johann Zarco yang berhasil memenangi satu balapan.AFP/LOIC VENANCE Pebalap LCR Honda, Johann Zarco, memacu motornya selama sesi latihan bebas di MotoGP Perancis 2025 di Sirkuit Le Mans pada 10 Mei 2025.Zarco pun menutup musim sebagai pebalap Honda terbaik di klasemen dunia, finis di posisi ke-12, unggul enam poin dari Marini.Espargaro turut menyoroti intensitas program pengujian yang dijalani Honda sepanjang musim. “Sungguh luar biasa seberapa banyak kami bekerja. Saya menjalani tes di Malaysia, lalu kembali ke Eropa, kemudian ke Aragon sebelum tampil wild card di Valencia. Ini menunjukkan besarnya komitmen Honda,” ujarnya.Terkait minimnya konsesi yang dimiliki Ducati, Espargaro membandingkannya dengan perkembangan motor Honda selama musim berjalan. “Dengan segunung material dan ratusan lap pengujian, perubahan motor dalam enam bulan terakhir sungguh luar biasa,” katanya. “Honda membawa banyak pembaruan untuk Joan dan Luca. Misalnya, kami memiliki tiga pembaruan mesin selama musim berjalan, dan mesin yang digunakan sekarang sangat cepat,” ucap Espargaro.Mulai seri pembuka MotoGP 2026, Honda akan bergabung dengan Ducati, KTM, dan Aprilia dalam aturan pembekuan mesin.Sementara itu, era baru MotoGP dengan mesin 850 cc dijadwalkan resmi dimulai pada 2027.

| 2026-01-12 06:45