USAHA Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) digital kini menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif Indonesia. Kehadirannya membuka pasar, mendorong semangat kewirausahaan, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.Keterkaitan sektor kreatif dan digital semakin kuat dengan lebih dari 27 juta pekerja di sektor ekonomi kreatif dan 25,2 juta UMKM digital yang terus memacu inovasi nasional.Peran kecerdasan artifisial (AI) semakin mempererat hubungan kedua sektor tersebut. UMKM dan kreator konten mulai memanfaatkan AI untuk menyederhanakan alur kerja, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang baru untuk berkarya dan berkolaborasi.Jika sebelumnya hanya pelaku usaha besar yang mampu bersaing di pasar lokal ataupun global, kini AI juga membuka kesempatan serupa pagi pelaku usaha kecil.Meski demikian, keterlibatan manusia tetap menjadi fondasi setiap proses kreatif. AI pada dasarnya adalah alat yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya.Berbasis data, AI beroperasi berdasarkan arahan, tujuan, dan keputusan manusia. Walaupun kerap dianggap mampu berjalan secara otonom, AI sejatinya hanya merespons kreativitas dan visi penggunanya.Oleh karena itu, kebijakan perlu dirancang untuk memaksimalkan potensi AI sambil tetap menjaga dan meningkatkan ruang kreativitas masyarakat.Baca juga: Strategi Pemasaran Digital Berubah di Tengah Tekanan AI dan Persaingan GlobalIndonesia tengah melanjutkan diskusi mengenai Undang-Undang Hak Cipta, termasuk mengenai peran AI. Meski penting, diskusi ini harus dilakukan dengan pemahaman yang matang dan utuh karena masih banyak miskonsepsi beredar mengenai cara kerja AI.Salah satu konsep penting yang harus dipertimbangkan adalah pelatihan model AI yang merupakan fondasi penting dalam menciptakan sistem yang akurat dan relevan.Tanpa data yang beragam dan representatif, model AI berisiko menjadi bias, kurang inklusif, dan kurang relevan bagi masyarakat Indonesia. Padahal, kekayaan budaya, bahasa, dan konteks lokal Indonesia adalah aset penting yang selama ini masih belum sepenuhnya terwakili dalam model global.Maka dari itu, pelatihan model AI yang bertanggung jawab dan disertai perlindungan yang memadai sangat diperlukan. Dengan demikian, AI mampu mencerminkan kebutuhan konteks lokal, baik itu UMKM maupun kreator.Melatih AI dengan materi budaya Indonesia tidak berarti menghapus peran manusia. Sebaliknya, langkah ini menjadikan AI lebih inklusif dan bermanfaat, terutama bagi UMKM yang tidak memiliki sumber daya untuk mengembangkan teknologi sendiri.Baca juga: Pemerintah Targetkan Perpres AI Terbit Awal 2026Kebijakan idealnya mampu menyeimbangkan perlindungan hak para kreator dan kebutuhan pelatihan model AI demi mendorong representasi budaya yang berkeadilan bagi semua pihak.Indonesia juga tengah mencari mekanisme yang tepat untuk mengidentifikasikan karya yang dihasilkan AI. Pendekatan, seperti watermarking dan metadata provenance, dapat meningkatkan transparansi tanpa membebani kreator.Solusi seperti itu dapat membantu menjaga kepercayaan antara platform, pengguna, kreator, dan regulator dengan menyediakan informasi jelas tentang karya yang dihasilkan AI.
(prf/ega)
Peluang Baru bagi Indonesia untuk Berinovasi dan Berkarya
2026-01-12 05:55:41
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:49
| 2026-01-12 05:35
| 2026-01-12 05:07
| 2026-01-12 04:21
| 2026-01-12 03:35










































