Video Paus Sperma Muncul di Laut Bali, Ahli Ungkap Bukan Jalur Migrasi Tetap

2026-01-30 16:22:58
Video Paus Sperma Muncul di Laut Bali, Ahli Ungkap Bukan Jalur Migrasi Tetap
BULELENG, – Sebuah video kemunculan paus sperma (physeter macrocephalus) di perairan utara Bali viral di media sosial pada Senin .Dalam video berdurasi sekitar sepuluh detik itu, mamalia laut raksasa tersebut tampak muncul ke permukaan sebelum mengangkat ekornya dan kembali menyelam.Detik-detik kemunculan paus tersebut direkam oleh nelayan di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.Baca juga: Diduga Kelelahan, Seorang Nelayan di NTT Meninggal Saat Berburu PausDosen Jurusan Kelautan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Gede Iwan Setiabudi, menjelaskan bahwa kehadiran paus sperma di perairan utara Bali bukanlah indikasi jalur migrasi tetap.Kemunculan mamalia besar itu disebut sebagai fenomena kemunculan acak yang dipengaruhi kondisi laut."Perairan utara Bali itu bersifat buntu dan hanya terbuka dari arah timur. Jadi besar kemungkinan paus-paus itu hanya melintas, bukan jalur migrasi yang menetap," jelas Iwan, Senin.Baca juga: Israel Serang Lebanon Lagi Meski Paus Leo Kunjungi Negara Itu Beberapa Hari LaluMenurut Iwan, migrasi paus sperma secara umum lebih sering tercatat di kawasan Laut Sawu, perairan Sulawesi, Maluku, hingga Papua.Di wilayah tersebut, pola migrasi lebih teratur dan dapat teramati sepanjang tahun."Untuk di utara Bali, kemunculannya tidak bisa diprediksi dan tidak teratur waktu atau lokasi. Jadi ini bukan jalur migrasi, kemungkinan mereka mengikuti pola hidro-oseanografi tertentu atau arus laut yang menuntun ke wilayah ini," ujarnya.Ia menambahkan, fenomena ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi.Penggiat wisata bahari di Pemuteran dan kawasan Taman Nasional Bali Barat beberapa kali melaporkan keberadaan paus, meski jarang dan tidak reguler.Iwan menilai kemunculan paus secara acak dapat dipicu sejumlah faktor lingkungan."Bisa saja mereka terpengaruh gangguan sonar bawah laut, perubahan suhu ekstrem, atau cuaca buruk. Sekarang sedang musim badai, jadi kemungkinan paus terpisah dari rombongannya," katanya.Baca juga: Tanggal 2 Desember Peringati Hari Apa? Mulai dari Penghapusan Perbudakan hingga Isu Perburuan PausPaus sperma termasuk kelompok cetacea yang hidup berkelompok dan memiliki struktur sosial kuat.Jika seekor paus terlihat sendirian, kata Iwan, itu dapat menandakan ia sedang tersesat atau mengalami kondisi fisik tertentu.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-30 16:12