Beban Utang Kian Berat, Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Mercusuar

2026-02-04 06:17:52
Beban Utang Kian Berat, Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Mercusuar
JAKARTA, – Pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai beban utang Indonesia semakin berat jika dilihat dari berbagai rasio utang, meskipun secara nominal masih berada dalam batas aman.Menurut Lukman, indikator seperti debt service ratio dan debt income ratio menunjukkan tren peningkatan, yang menandakan kewajiban utang semakin menekan kemampuan fiskal negara. Kondisi ini otomatis mendorong lonjakan pembayaran bunga utang.“Kalau dilihat dari rasio utang seperti debt service ratio dan debt income ratio, itu semakin meningkat. Ini menandakan utang makin berat bagi Indonesia, dan otomatis pembayaran bunganya juga makin tinggi,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com Selasa .Baca juga: PLN: Utang Terang, Listrik RedupMeski demikian, Lukman menilai posisi fiskal Indonesia masih relatif aman karena rasio defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen, sebagaimana tertuang dalam Rancangan APBN (RAPBN).Namun, ia mengingatkan tekanan akan semakin terasa di tengah tren suku bunga yang tinggi.“Dengan semakin tingginya suku bunga, ruang fiskal pemerintah menjadi makin sempit. Karena itu, pemerintah perlu lebih kreatif dalam mencari dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan negara lainnya,” jelasnya.Lukman menilai, salah satu langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi proyek-proyek yang dinilai tidak efisien.Ia menyoroti proyek infrastruktur berskala besar yang bersifat mercusuar, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).Menurut dia, alokasi anggaran seharusnya lebih diarahkan pada program-program yang mampu mendorong investasi produktif dan memberikan dampak ekonomi berantai yang kuat.“Lebih baik fokus pada program yang menumbuhkan kembali sektor pertanian dan industri, karena sektor-sektor ini punya linkages yang kuat, baik ke depan maupun ke belakang,” kata Lukman.Baca juga: Utang Masih Menumpuk? Coba 5 Strategi Ini agar Keuangan Lebih RinganIa menegaskan, penguatan sektor-sektor produktif tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan negara dalam jangka menengah-panjang, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan fiskal yang kian besar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-04 05:08