Mister Polisi Pelipur Lara Korban Bencana Sibolga

2026-01-13 06:33:23
Mister Polisi Pelipur Lara Korban Bencana Sibolga
Jakarta - Di lorong sempit SMP Negeri Sibolga, Sumatera Utara, senyum Aiptu Hadi Sitanggang merekah hangat. Dia berdiri tegak di antara tembok-tembok sekolah yang kini jadi tempat pengungsian. Seragam dinasnya masih melekat di tubuh, dengan emblem Bhabinkamtibmas melingkar di lengan kiri.Di hadapannya, anak-anak dari balita hingga remaja berbaris rapi. Tangan-tangan mungil mereka terulur, menanti selimut hangat yang Hadi bagikan. Selembar kain yang jadi andalan untuk meredam dinginnya malam dan getirnya bencana. Setelah selimut diberikan, anak-anak mencium tangan Hadi dengan mata berbinar dan senyum tulus. Beberapa anak mengalungkan selimut tipis itu ke leher sambil melompat kegirangan. Ada pula yang memeluk erat, menutup kepala mungilnya seakan tak ingin melepaskan kehangatan yang baru saja dia temukan di tengah dinginnya pengungsian. Advertisement"Mereka butuh selimut," kata Hadi pelan kepada Jumat .Hadi merupakan anggota Bhabinkamtibmas Huta Tonga-Tonga Sibolga. Sudah sebulan dia tak bisa tidur nyenyak. Sejak tanah longsor menimbun sejumlah titik di Sibolga.Hadi ingat betul pertama kali longsor terjadi. Kenangan paling membekas itu datang pagi-pagi, 25 November 2025. Kala itu, Hadi tengah sibuk mengurus pohon tumbang yang menutup akses jalan. Lalu laporan masuk. Dua warga tertimbun longsor di kawasan Tangga Seratus.Tanpa ragu, dia tancap gas. Saat tiba, tanah masih bergerak, menggulung apa saja yang dilewatinya. Di depan matanya, seorang balita ditemukan terluka parah di bagian kepala. Hati Hadi terenyuh, tapi waktu tak memberi ruang untuk larut.Dia segera mengatur lalu lintas, mencoba mencegah korban bertambah. Namun, alam kembali mengamuk. Longsor susulan datang tiba-tiba. “Di situ saya panik, lari pontang-panting,” kenangnya.Dalam satu jam, tanah longsor menjalar ke berbagai titik lain di Sibolga. Hadi terus berpindah, menarik korban dari reruntuhan, memandu warga menjauh dari bahaya.Namun di tengah bencana yang datang bertubi-tubi, kabar mengejutkan menyebar. Namanya masuk dalam daftar korban tewas tertimpa longsor. Desas-desus itu menggetarkan hati rekan dan keluarganya, sementara dia sendiri masih berjibaku di lapangan, menyelamatkan nyawa demi nyawa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-13 05:40