Desa Hancur Tersapu Banjir, 1.900 Warga Aceh Utara Bertahan di Bukit dan Butuh Tenda

2026-01-11 22:30:11
Desa Hancur Tersapu Banjir, 1.900 Warga Aceh Utara Bertahan di Bukit dan Butuh Tenda
ACEH UTARA, – Sekitar 1.900 pengungsi memilih menetap di lokasi perbukitan di Desa Langkahan, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Desa mereka sudah hancur karena tersapu banjir beberapa waktu lalu.Kini, mereka membutuhkan tenda, warga berharap bisa mendapat bantuan tenda yang lebih layak.Di perbukitan itu, warga dari dua desa berkumpul menjadi satu. Sekitar 1.500 jiwa dari Desa Rumoh Rayeuk, sedangkan 400 jiwa lainnya dari Desa Langkahan, Aceh Utara.Mereka memilih bukit sebagai lokasi pengungsian karena trauma akan banjir susulan.Baca juga: Bupati Aceh Utara: Pekan Depan Semua Dinas Wajib Aktif, Jangan Alasan Terdampak BanjirIwan Arbi, salah seorang pengungsi, menyebutkan trauma banjir besar itu menghantui mereka.Saat hari terjadinya bencana beberapa waktu lalu, air merendam desa mereka secara bertahap, sehingga mereka bisa melarikan diri ke perbukitan itu.Ketinggian air kemudian semakin parah, bahkan sampai menutup atap rumah mereka.“Dua dusun di Desa Langkahan hancur total,” kata Iwan.Baca juga: Tanggap Darurat Bencana Aceh Utara Diperpanjang, Pengungsi Butuh Perlengkapan IbadahHari ke-26 pascabanjir, ia menyebutkan bahwa tenda dari Kementerian Sosial RI atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI belum ada.Mereka pun mendirikan tenda swadaya dan dibantu oleh para relawan.Sementara, kebutuhan bahan pangan telah disalurkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, termasuk pos kesehatan yang juga tersedia di kawasan itu.“Untuk saat ini belum ada tenda yang disediakan. Sangat perlu sekali untuk tenda yang lebih layak, minimal satu kepala keluarga satu tenda keluarga,” katanya.Ia menambahkan bahwa masyarakat khawatir anak-anak korban banjir akan rentan terkena penyakit dengan fasilitas minimalis di lokasi pengungsian.“Tidak mungkin kami bertahan terus dengan fasilitas tak mencukupi. Kami harap tenda menjadi perhatian pemerintah pusat,” katanya.Untuk kebutuhan air bersih, para pengungsi di sini mengambil dari kawasan bawah bukit kemudian menaikkannya ke atas, sehingga dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk membawa air bersih ke lokasi itu.“Semoga pemerintah pusat bisa mempercepat distribusi tenda, kelambu, alas memadai untuk kami. Sekarang alas tidur seadanya di atas tanah,” pungkasnya.Baca juga: Aceh Utara Perpanjang Masa Tanggap Darurat Banjir Selama SepekanSebelumnya diberitakan, banjir merendam 18 kabupaten/kota di Aceh pada 26 November 2025.Aceh Utara merupakan salah satu daerah terparah terdampak banjir, dengan ratusan orang meninggal dunia, ribuan rumah rusak, dan fasilitas umum lumpuh.


(prf/ega)