Kemensos Salurkan Bantuan & Bangun Dapur Umum Korban Longsor Banjarnegara

2026-01-14 17:03:31
Kemensos Salurkan Bantuan & Bangun Dapur Umum Korban Longsor Banjarnegara
Kementerian Sosial (Kemensos) mengirimkan bantuan logistik dan mendirikan dapur umum dalam penanganan korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.Diketahui, bencana alam yang terjadi pada Sabtu sore ini diakibatkan oleh hujan deras yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam dan menyebabkan tebing di hutan pinus longsor dan menimpa permukiman warga di RT 01 s.d. RT 04, RW 03, Dusun Situkung, Desa Pandanarum."Dalam penanganan bencana longsor di Banjarnegara, kami sudah berkoordinasi dan melakukan asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan, bantuan logistik juga telah didistribusikan kepada korban terdampak," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Senin .Berdasarkan data yang telah dihimpun, bencana ini menyebabkan 2 orang meninggal dunia dan 10 orang luka-luka. BPNP memperkirakan masih ada 27 orang lainnya yang tertimbun longsor dan masih dalam proses pencarian.Bencana longsor kemudian menyebabkan sebanyak 823 warga terpaksa mengungsi ke tiga titik pengungsian yaitu Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Pringamba, dan GOR Desa Baji. Sementara itu, kerugian materil akibat bencana ini yaitu 30 rumah tertimbun longsor dan 195 rumah lainnya terancam tertimbun.Adapun, Kemensos telah mendistribusikan bantuan logistik dengan rincian sebagai berikut :Bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Tagana Kabupaten Banjarnegara, Kemensos juga mendirikan dapur umum di halaman Kantor Kecamatan Pandanarum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan relawan yang berada di posko pengungsian."Distribusi bantuan logistik dari Kementerian Sosial kepada warga terdampak dikirim melalui gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan gudang Dinas Sosial Kabupaten Banjarnegara," pungkas Gus Ipul.Saat ini, proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan. Warga diimbau untuk tetap waspada, mengingat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih terjadi dan berpotensi terjadi longsor susulan.Lihat Video: Detik-detik Tanah Longsor di Banjarnegara, Warga Panik Berlarian[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 16:42