JAKARTA, - Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terhadap perempuan terus menunjukkan peningkatan dalam empat tahun terakhir. Komnas Perempuan menegaskan bahwa kasus-kasus ini tidak lagi hanya terjadi di kota besar dengan akses teknologi lebih baik, tetapi sudah menjalar hingga ke berbagai daerah di Indonesia.Asisten Koordinator Resource Center Komnas Perempuan, Robby Kurniawan memaparkan bahwa tren tersebut tampak nyata dari laporan yang masuk setiap tahunnya.Robby menjelaskan, laporan kasus KBGO yang diterima Komnas Perempuan menunjukkan grafik yang bergerak naik dalam empat tahun terakhir.Baca juga: Ramai Terjadi Kekerasan Berbasis Gender Online di Media Sosial, Bagaimana Cara Menghindarinya?“Data Komnas Perempuan menujukkan adanya peningkatan jumlah laporan KBGO mulai tahun 2020 sampai 2024,” jelas Robby dalam Diskusi Kolaboratif DFAT: Dukung Penguatan Keamanan Digital bagi Perempuan dan Anak, yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu Pada 2020 terdapat 940 laporan. Jumlah ini melonjak menjadi 1.721 laporan pada 2021. Meski pada 2022 sedikit menurun menjadi 1.697 kasus, angka tersebut kembali menunjukkan dinamika di tahun-tahun berikutnya, yakni 1.272 laporan pada 2023 dan kembali naik menjadi 1.791 laporan pada 2024.Tren fluktuatif namun cenderung meningkat ini dinilai mencerminkan dua hal, yaitu semakin banyaknya korban yang berani melapor serta masih tingginya kerentanan perempuan terhadap kekerasan di ruang digital.Baca juga: Kekerasan Berbasis Gender Online Melonjak, Korban Terbanyak Usia 18-25 TahunDok. Freepik/tirachardz Ilustrasi perempuan menggunakan smartphone.Tidak hanya kota besar, laporan datang dari hampir semua provinsiSalah satu temuan penting Komnas Perempuan adalah penyebaran kasus KBGO yang kini terjadi tidak hanya di kota besar. Dalam rentang 2022 hingga 2024, laporan yang masuk berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia.“Dari tahun 2022 sampai 2024, kami menerima laporan hampir dari seluruh provinsi di Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar saja,” ujar Robby.Hal ini menunjukkan bahwa akses teknologi di berbagai daerah turut membuka risiko kekerasan digital bagi perempuan, terlepas dari besarnya wilayah atau tingkat kemajuan infrastrukturnya. Robby menegaskan bahwa pola penyebaran kasus ini harus menjadi perhatian serius, terutama bagi pemangku kebijakan yang fokus pada keamanan digital perempuan.Baca juga: Australia Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Pakai Medsos, Ini 7 Dampak PositifnyaKasus tinggi masih didominasi Jawa, tetapi daerah lain juga rentanMeski laporan berasal dari banyak wilayah, beberapa provinsi masih mendominasi tingginya jumlah kasus. Ia menyebut sejumlah daerah dengan angka laporan tertinggi.
(prf/ega)
Tak Cuma di Kota Besar, Kekerasan Berbasis Gender Online Incar Perempuan
2026-01-12 13:11:07
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 13:38
| 2026-01-12 13:00
| 2026-01-12 12:41
| 2026-01-12 12:31
| 2026-01-12 11:01










































