Menteri PPPA Ungkap Cerita di Balik Anak Terlibat Kerusuhan Agustus

2026-01-16 13:35:48
Menteri PPPA Ungkap Cerita di Balik Anak Terlibat Kerusuhan Agustus
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengungkap cerita di balik sejumlah anak terlibat kerusuhan Agustus lalu. Dia menemukan sejumlah anak diajak ke lokasi demo awalnya untuk nonton konser."Ada beberapa anak-anak di Jawa Tengah, misalkan, mereka diajak, disediakan kendaraan untuk hadir di satu tempat yang informasinya adalah untuk hadir di acara konser musik dan ada pertandingan sepakbola. Ternyata anak-anak ini diturunkan di massa yang sedang melakukan demonstrasi," ujar Arifah dalam focus group discussion (FGD) bertajuk 'Sinergi Antar Lembaga untuk Terlindunginya Hak-hak Anak yang Berhadapan dengan Hukum', Selasa .Selain itu, dia mendapat cerita dari anak di Cirebon yang turut dimobilisasi ke lokasi demo. Bahkan dia mendapati para orang tua anak syok mendengar anaknya terlibat, bahkan tersangkut kasus hukum."Dan ketika saya dialog dengan anak-anak ini, rata-rata mereka tidak tahu. Dari anak-anak yang saya ajak komunikasi, ada mereka yang lagi di warung, ada yang lagi di rumah, tiba-tiba diajak oleh temannya, eh ada demo, kita nonton yuk, gitu," ucapnya."Oke, aku mau, dijemput gitu. Akhirnya mereka dijemput. Sampai di sana, khususnya di Cirebon," sambungnya.Dia melanjutkan anak-anak itu diboyong menggunakan kendaraan. Mereka diturunkan di lokasi gedung yang sudah terbakar atau rusuh."Ini rombongan anak-anak ini, tiga motor, nyampe di sana gedung itu sudah terbakar. Artinya, anak-anak ini bukan pelakunya. Mereka datang ke sana, mereka nonton di pinggir jalan," ungkapnya.Sesaat di sana, Arifah mendapat cerita anak-anak itu diajak menjarah rumah. Anak-anak ini diajak oleh orang tak dikenal."Dan ketika mereka nonton di pinggir jalan, ada orang yang menyuruh mereka mengambil barang-barang yang baru dikeluarkan dari gedung tersebut. Anak ini nggak mau. Tapi dibilangin gini, 'Ambil aja nggak apa-apa. Semua juga pada ngambil, kok. Ini barangmu, udah nggak dipakai lagi karena gedungnya terbakar'," katanya."Anak ini dipaksa, dia disuruh bawa kursi besar. Anggota Dewan kan kursinya besar-besar. Dipaksa untuk bawa. Anak ini udah jawab, 'saya nggak mau bawa, untuk apa. Rumah saya kecil, nggak muat untuk kursi ini'," sambungnya.Arifah melanjutkan anak-anak sudah bersikeras tak mau mengambil barang itu. Namun, karena terpaksa, akhirnya ikut-ikutan."Begitu ini dibawa, baru mau dibawa ke motor, ada seseorang yang langsung menawar. 'Saya beli ya, Rp 100 ribu'. Saya tanya, 'terus untuk apa uangmu?'. 'Ya saya beli jajan aja sama teman-teman'," ucapnya.Lihat juga Video Amarah Prabowo ke Biang Kerusuhan Demo: They Are Evil![Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-16 12:34