Ada Marketplace Biomassa, Masyarakat Bisa Jual Limbah Organik ke PLN IP untuk PLTU

2026-02-05 00:32:59
Ada Marketplace Biomassa, Masyarakat Bisa Jual Limbah Organik ke PLN IP untuk PLTU
JAKARTA, - PLN Indonesia Power (PLN IP) mulai memanfaatkan marketplace biomassa untuk memasok limbah organik dari masyarakat untuk kebutuhan bahan bakar alternatif pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).Marketplace biomassa dikembangkan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).Lewat aplikasi ini, masyarakat bisa menjual limbah organik seperti sekam padi, serbuk gergaji, atau tandan kosong sawit secara langsung ke pengelola pembangkit.Nantinya, limbah tersebut diserap PLN IP dan diolah menjadi biomassa untuk bahan baku co-firing, yaitu teknologi pencampuran biomassa dengan batu bara untuk menekan penggunaan energi fosil.Baca juga: Purbaya Bayar Kompensasi PLN dan Pertamina Bulanan, Ekonom: Beri KepastianDirektur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, mengatakan bahwa biomassa merupakan peluang strategis, bukan hanya untuk diversifikasi energi, tetapi juga untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam ekosistem energi nasional.Maka dari itu, kehadiran marketplace biomassa ini menjadi bagian dari strategi besar PLN Group dalam mempercepat transformasi energi nasional menuju sistem yang lebih hijau, efisien, dan inklusif."Digitalisasi melalui marketplace ini memungkinkan proses yang lebih transparan, efisien, dan berdampak langsung bagi ekonomi lokal,” ujar Rizal dalam keterangan tertulis, Jumat .Pada marketplace biomassa tersedia fitur pendaftaran dan verifikasi penyedia biomassa, pemantauan stok dan kualitas bahan baku, sistem lelang dan penawaran harga, integrasi logistik dan pelacakan pengiriman, serta dashboard analitik untuk monitoring serapan biomassa.Melalui sistem ini, penyedia limbah organik atau bahan baku biomassa seperti petani, koperasi, dan pelaku UMKM bisa terhubung langsung dengan unit pembangkit listrik berbasis co-firing.Sehingga, nilai jual limbahnya menjadi lebih adil dengan proses transaksi yang lebih cepat.Adapun dalam program ini, PLTU Adipala, Cilacap, menjadi salah satu unit pionir yang telah mengadopsi co-firing biomassa dan kini menjadi lokasi percontohan integrasi marketplace dalam operasional pembangkit.Maka, limbah organik yang dipasarkan di marketplace biomassa akan dimanfaatkan untuk co-firing pada PLTU Adipala yang dioperasikan oleh Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jawa Tengah 2 Adipala."Digitalisasi ini bukan hanya soal efisiensi operasional, tapi juga tentang menciptakan ekosistem energi yang lebih inklusif. Kami ingin memastikan bahwa transisi energi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar pembangkit," ujar Direktur Operasi Pembangkit Batubara PLN IP, Hanafi Nur Rifa’i.Pemanfaatan biomassa diyakini menciptakan ekosistem ekonomi baru di sekitar pembangkit, seperti usaha pengeringan, penggilingan, hingga logistik biomassa.Petani dan pelaku UMKM kini memiliki pasar baru dan bisa mendapatkan cuan tambahan dari limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai.Sebab, ekosistem bisnis baru jadi terbentuk di sekitar pembangkit, seperti jasa pengeringan, penggilingan, dan logistik biomassa."Marketplace ini membuka akses pasar yang lebih luas bagi masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa biomassa tidak hanya menjadi solusi energi, tapi juga sumber penghidupan baru," ucap Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir.Baca juga: PLN Catat Laba Usaha Rp 30,6 Triliun di Semester I-2025


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-02-04 23:45