Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat

2026-01-12 05:33:59
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Ketika datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak, apakah memerhatikan siapa saja yang biasanya hadir saat pembagian rapor di sekolah—dan mengapa peran ayah kerap nyaris tak terlihat di sana?Rabu lalu , saya mengambil rapor anak saya di sekolah. Di ruang kelas yang dipenuhi kursi plastik dan antrean orang tua, ada satu pemandangan yang langsung terasa menonjol: hampir seluruh yang hadir adalah ibu-ibu.Nah, dari puluhan orang tua, jumlah ayah yang datang bisa dihitung dengan jari. Hanya tiga orang, termasuk saya sendiri.Sekilas, pemandangan ini tampak biasa. Bahkan mungkin dianggap wajar. Namun justru di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya. Ketika ketimpangan terus-menerus terjadi dan diterima sebagai hal normal, sering kali ada persoalan yang luput kita sadari.Apa yang terlihat hari itu bukan sekadar antrean pembagian rapor, melainkan potret kecil dari absennya ayah di ruang pendidikan anak.Sekolah dan Pembagian Peran yang Terbiasa TimpangDalam praktik sehari-hari, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak kerap direduksi pada pembagian peran yang sederhana: ayah bekerja dan mencukupi kebutuhan finansial, ibu mengurus urusan sekolah.Pola ini diwariskan lintas generasi, diterima tanpa banyak pertanyaan, dan akhirnya membentuk kebiasaan sosial.Akibatnya, sekolah menjadi ruang yang terasa akrab bagi ibu, tetapi canggung bagi ayah. Ayah hadir saat acara besar atau momen seremonial, namun sering absen dalam peristiwa-peristiwa kecil yang sesungguhnya sangat menentukan perjalanan belajar anak.Rapor: Catatan Proses, Bukan Sekadar NilaiPadahal, rapor bukan hanya lembaran angka. Ia adalah catatan proses. Di dalamnya tersimpan jejak konsistensi belajar, perkembangan sikap, catatan karakter, hingga sinyal awal ketika seorang anak mulai mengalami kesulitan atau kehilangan motivasi.Jika dibaca dengan sungguh-sungguh, rapor dapat menjadi alat deteksi dini. Ia membuka ruang dialog dan refleksi, jauh sebelum masalah belajar berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.Sayangnya, rapor sering diperlakukan sebagai hasil akhir. Nilai tinggi dirayakan, nilai rendah disesalkan, lalu disimpan.Lebih dari itu, proses membaca dan menindaklanjuti rapor sering kali hanya dibebankan kepada ibu. Ayah cukup mengetahui “hasil akhirnya”, tanpa benar-benar memahami proses dan dinamika yang melatarbelakanginya.Kehadiran Ayah yang Terus Dianggap Pilihan


(prf/ega)

Berita Lainnya