SUMENEP, - Peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tidak hanya memunculkan rasa prihatin, tetapi juga pelajaran bagi warga di daerah yang memiliki karakter geografis rentan.Di Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, bencana itu menjadi pelajaran penting untuk memperkuat upaya mitigasi berbasis alam sejak dini.Belajar dari kejadian tersebut, warga Desa Masalima, Kecamatan Pulau Masalembu, mulai menanam ratusan pohon durian dan kelengkeng di area ladang yang tak jauh dari garis pantai.Baca juga: Cerita Kurir Paket di Sumenep, Bawa Marmut, Ikan Hidup, hingga Besi 3 MeterPenanaman itu dilakukan secara gotong royong sebagai ikhtiar mencegah erosi, abrasi, serta aliran air berlebihan saat hujan deras dan gelombang tinggi menerjang pulau yang berada di antara Pulau Jawa dan Kalimantan itu.Kepala Dusun Tengah, Desa Masalima, Fairus Abadi mengatakan, langkah tersebut diambil karena warga menyadari pentingnya peran vegetasi dalam menjaga keseimbangan alam.Baca juga: Litbang Kompas: Infrastruktur Rusak Dinilai Jadi Kendala Penanganan Bencana SumateraMenurut dia, akar pohon durian dikenal kuat mencengkeram tanah sehingga mampu menahan pergeseran lapisan tanah akibat hujan deras maupun empasan angin kencang.“Selain mencegah erosi, tanaman ini juga menjaga siklus air. Air hujan bisa lebih banyak diserap tanah sehingga tidak langsung mengalir dan membahayakan permukiman,” kata Fairus, Senin .Fairus menjelaskan, keberadaan pohon durian dan kelengkeng juga berfungsi sebagai retensi air alami.Bahan organik dari daun dan buah yang gugur meningkatkan kemampuan tanah menahan air, sehingga kelembapan tanah dapat terjaga lebih lama, terutama pada musim kemarau."Tanaman buah tersebut juga mendukung keanekaragaman hayati. Pohon-pohon tersebut bisa menjadi habitat bagi burung, serangga, dan satwa kecil lain yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pulau," tambah dia.Anggota DPRD dari Masalembu, Darul Hasyim Fath menilai, program ini menjadi bentuk sinergi antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi warga.Selama ini, perekonomian masyarakat Masalembu sangat bergantung pada hasil laut yang tidak selalu bisa diandalkan sepanjang tahun.“Pada musim angin barat, terutama mulai Oktober hingga puncaknya Desember, nelayan sering tidak bisa melaut. Saat itu, warga harus menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Darul.Sudah ada sekitar 300 pohon durian dan kelengkeng telah ditanam. Sebagian bibit juga dibagikan kepada warga untuk ditanam di lahan masing-masing sebagai bagian dari praktik pertanian berkelanjutan berbasis agroforestri.Darul berharap, ketika durian dan kelengkeng mulai berbuah, hasilnya dapat menjadi sumber pendapatan alternatif.Terlebih, Masalembu merupakan pulau lintasan dengan banyak kapal transit, seperti kapal penangkap ikan, dan kapal pengangkut barang yang singgah.“Kalau nanti kita bisa menjual kelengkeng dan durian kepada kapal-kapal yang melintas atau singgah, kenapa tidak? Ini bisa menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Darul.Politisi PDI Perjuangan itu menggarisbawahi, melalui penanaman pohon buah tersebut, warga Masalembu berharap akar durian tidak hanya mampu menahan tanah dari ancaman banjir dan abrasi, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi ketahanan ekonomi pulau kecil di tengah lautan.
(prf/ega)
Belajar dari Banjir Sumatera, Warga Kepulauan Masalembu Sumenep Berharap pada Akar Durian
2026-01-12 04:28:46
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:01
| 2026-01-12 03:44
| 2026-01-12 03:35
| 2026-01-12 02:11










































