Kisah Hoegeng Tolak Hadiah Mobil dari Pengusaha Pro Pemerintah, Tak Mau Menteri Jadi "Celah"

2026-01-13 00:49:49
Kisah Hoegeng Tolak Hadiah Mobil dari Pengusaha Pro Pemerintah, Tak Mau Menteri Jadi
– Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso tidak hanya dikenang karena gaya hidupnya yang sederhana dan disiplin, tetapi juga karena integritasnya.Hoegeng yang pernah menjabat sebagai Kapolri pada1968–1971 konsisten menjaga prinsip sebagai pejabat negara, bahkan ketika berada di lingkaran kekuasaan.Sebelum memimpin Korps Bhayangkara, Hoegeng mengemban amanah sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.Meski memegang jabatan strategis, Hoegeng menolak berbagai bentuk hadiah atau fasilitas pribadi yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.Sikap tersebut tercermin saat ia menolak mobil keluaran terbaru yang merupakan pemberian dari seorang pengusaha besar.Bahkan, sepeda motor yang sempat terparkir di rumahnya pun dikembalikan kepada pengirim, meski keputusan ini sempat membuat anaknya kecewa.Baca juga: Perjalanan Timur Pradopo: Pagi Kapolda, Sore Kabaharkam, Malam Calon KapolriDalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan terbitan Penerbit Buku Kompas, Soedharto Martopoespito atau Dharto mengisahkan keteguhan prinsip Hoegeng saat menjabat Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada 1966.Dharto, yang saat itu menjabat sebagai Pjs Kepala Bagian Administrasi Biro VIII Bidang Politik, Keamanan, dan Subversi Sekretariat Negara, ditunjuk menjadi sekretaris menteri dengan tugas mendampingi Hoegeng.Beberapa pekan setelah pelantikan, Hoegeng menerima informasi mengenai hadiah sebuah mobil baru dari Dasaad Musin Concern, perusahaan milik pengusaha yang memegang lisensi sejumlah merek mobil Eropa, seperti Mazda dan Fiat.Baca juga: Perjalanan Tito Karnavian dan Idham Azis: Sukses Lumpuhkan Gembong Teroris Dr Azahari, Berakhir Jadi KapolriHadiah tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.Dharto mengatakan, Hoegeng sebenarnya tinggal mengambil satu unit Mazda “kotak” keluaran terbaru.Alih-alih mengambil mobil tersebut, Hoegeng memilih menyimpan surat pemberitahuan dari pihak perusahaan di meja kerjanya. Ia tidak menunjukkan keinginan untuk mendatangi showroom dan membawa pulang hadiah mobil.Suatu hari, Hoegeng kedatangan seorang teman lama. Percakapan berlangsung hangat hingga sang tamu mengucapkan selamat atas jabatan menteri yang diemban Hoegeng.Di sela perbincangan, tamu itu menyinggung soal mobil Mazda dari Dasaad dan menanyakan apakah Hoegeng sudah menerimanya.Baca juga: Sepak Terjang Dono Sukmanto, Salah Satu Kapolri Tersingkat, Menjabat Hanya 9 HariKompas.id Kepala Polri (1968-1971) Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso.


(prf/ega)