Ringkasan berita:JAKARTA, – Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bisa bekerja dan menyelesaikan suatu perintah secara otomatis, alias agentic AI di Indonesia meningkat pesat.Namun, peningkatan ini tidak diiringi penguatan keamanan sistem penghubung antar aplikasi alias API (application programming interface) yang justru menjadi titik paling rentan dalam infrastruktur AI modern. Hal ini disampaikan Country Manager F5 Networks Indonesia, Surung Sinamo ketika memaparkan laporan terbaru berjudul "2025 Strategic Imperatives: Securing APIs for the Age of Agentic AI in APAC" khusus pasar Indonesia.Laporan yang dibuat bersama firma riset pasar Twimbit tersebut mewawancara sekitar 1.000 responden profesional dari 10 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Nah, dalam laporan tersebut, Surung mengeklaim bahwa lebih dari 76 persen organisasi di Indonesia menyatakan keamanan API sebagai faktor sangat krusial bagi kelangsungan bisnis dan transformasi AI. Baca juga: CEO Nvidia Ungkap Fakta yang Tak Bisa Diabaikan soal Ilmuwan AI ChinaNamun, hanya sekitar 40 persen perusahaan di Indonesia yang mengaku bahwa mereka masih berada di fase awal dalam tata kelola API internal. Sementara sisanya, yaitu sekitar 60 persen, mengatakan tata kelola API sudah ada di tahap matang (mature).Angka ini, menurut Surung, cukup rendah, mengingat di era agentic AI, API bukan sekadar "jembatan data" antar aplikasi, melainkan juga sebagai pusat eksekusi otomatis yang proses dan hasilnya bisa berbeda-beda setiap detik./Bill Clinten Isi riset yang menampilkan bahwa adopsi AI makin diminati, namun keamanan API masih lemah dan risiko juga mengintai, ditampilkan dalam acara F5 Media Roundtable di restoran Seribu Rasa, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa . "Tanpa kendali ketat, API yang tidak aman dan struktur akses yang keliru pada API dapat menyebabkan tindakan digital yang tak diinginkan, dan ini bahkan bisa berdampak sistemik," ujar Surung dalam acara F5 Media Roundtable di restoran Seribu Rasa, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa .Di Indonesia sendiri, sekitar 51 persen perusahaan yang ada dalam laporan di atas mengaku telah memiliki tim khusus yang menangani soal keamanan API.Namun, implementasi pengawasan API, kata Surung, masih belum konsisten di seluruh siklus pengembangannya."Kondisi ini memperkuat temuan bahwa kebutuhan keamanan API meningkat lebih cepat dari kemampuan organisasi untuk mengelolanya, terutama ketika AI yang dipakai semakin canggih dan lebih bersifat otonom (agentic AI)," imbuh Surung.Ketika ada celah keamanan dalam API, maka risiko keamanan tentunya akan mengintai.Surung menyebut risiko keamanan yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah broken authentication, dan hal ini dialami sekitar 32 persen perusahaan di Indonesia. Broken authentication adalah kondisi ketika mekanisme login dan verifikasi identitas di sebuah sistem/API tidak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga penyerang dapat masuk sebagai pengguna sah tanpa kredensial yang valid.Baca juga: Meta Gandeng Lagi Penerbit Berita, demi Konten AI yang Lebih Relevan/Bill Clinten Country Manager F5 Networks Indonesia, Surung Sinamo dalam acara F5 Media Roundtable di restoran Seribu Rasa, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa .
(prf/ega)
F5: Adopsi Agentic AI Melonjak, Keamanan API Indonesia Masih Tertinggal
2026-01-11 22:01:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:24
| 2026-01-11 20:39
| 2026-01-11 20:31
| 2026-01-11 20:27
| 2026-01-11 20:19










































