Kelola 40 Kg Sampah Per Hari, Warga Kebon Melati Bangun Sistem Lingkungan Mandiri

2026-02-02 00:46:57
Kelola 40 Kg Sampah Per Hari, Warga Kebon Melati Bangun Sistem Lingkungan Mandiri
JAKARTA, - Setiap hari, sekitar 40 kilogram sampah organik rumah tangga diproses oleh warga RW 06 Kampung Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat.Sampah tersebut tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan diolah secara mandiri oleh warga melalui sistem maggot, komposter, dan bank sampah yang dikelola secara swadaya.“Sampah plastik masuk bank sampah, sampah organik rumah tangga masuk maggot. Setiap hari bisa mengolah sekitar 40 kilogram sampah organik,” kata Andi (48), Ketua RT 008 RW 06 Kebon Melati saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Rabu .Baca juga: Keluh Mata Elang Usai Aplikasi Matel Dihapus: Kami Tak Bisa Kerja Lagi Pengolahan sampah tersebut telah berjalan sekitar lima tahun. Bagi Andi, sistem ini bukan sekadar program lingkungan, melainkan bagian dari upaya menjaga ruang hidup kampung di tengah tekanan pembangunan kota yang semakin masif.“Sepanjang pengalaman saya keliling Jakarta, kebanyakan permukiman padat itu identik dengan kumuh. Tapi di sini tidak. Masuk ke wilayah ini rasanya seperti terapi,” ujar Andi.RW 06 Kebon Melati berada di kawasan ring satu Jakarta, hanya sekitar satu kilometer dari Bundaran HI, dan diapit gedung-gedung tinggi kawasan Thamrin.Namun, di balik bayang-bayang pencakar langit, kampung ini justru dikenal sebagai salah satu wilayah dengan pengelolaan lingkungan mandiri yang konsisten.Andi menjelaskan, awal mula pengelolaan sampah di wilayahnya tidak terjadi secara instan.Warga terlebih dahulu mengikuti program lingkungan yang digagas pemerintah pusat pada masa sebelumnya. Dari situ, kesadaran lingkungan perlahan tumbuh dan menular ke warga./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Budidaya Maggot untuk sampah organik di RW 06 Kebon Melati, Jakarta Pusat“Targetnya jelas bikin lingkungan nyaman dan hijau. Warga akhirnya ikut menanam, ikut merawat,” kata dia.Saat ini, RW 06 memiliki delapan RT dengan sekitar 259 kepala keluarga (KK). Di RT 008 sendiri terdapat sekitar 70 KK.Dengan jumlah warga tersebut, volume sampah harian tergolong besar jika tidak dikelola dengan baik.Baca juga: Leasing: 95 Persen Kendaraan yang Ditindak Mata Elang di Jalan Sudah Pindah KepemilikanPengolahan sampah organik menggunakan maggot menjadi salah satu solusi utama. Maggot yang digunakan adalah larva lalat Black Soldier Fly (BSF), yang mampu mengurai sisa makanan dan sampah organik dengan cepat.“Saya sendiri ikut pelatihannya lalu mengajarkan ke warga. Memang tergantung cuaca, kadang telur maggot tidak menetas saat cuaca ekstrem. Tapi sekarang kondisinya sedang bagus,” kata Andi.Hasil maggot tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi. Maggot dijual ke pemancing atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak.“Maggot juga bisa dijual, misalnya ke pemancing, dan hasilnya jadi pemasukan warga yang mengelola,” ujar dia.Selain maggot, warga RW 06 juga mengelola sampah melalui komposter. Sampah-sampah organik yang tidak dimasukkan ke maggot diolah menjadi pupuk kompos.“Maggot ini memang harus berkelanjutan. Siklusnya begitu terus. Setelah kawin, lalatnya mati, lalu diolah jadi pupuk. Yang hidup bertelur lagi, jadi maggot lagi,” kata Andi.Menurut dia, kompos yang dihasilkan membuat tanah di kampung menjadi lebih subur.Hal ini terlihat dari banyaknya tanaman yang tumbuh di gang-gang sempit, pekarangan rumah, hingga bantaran waduk Melati.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-02-01 22:23