CANBERRA, – Pemerintah Indonesia terus melanjutkan upaya menghidupkan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia, salah satunya lewat Malam Sastra yang digelar di Wisma Indonesia, Red Hill, pada Jumat .Kegiatan bertajuk Membaca Puisi Karya Helvy Tiana Rosa itu digelar sebagai rangkaian dari dari First Australian Congress for Indonesian Language 2025.Para peserta dari Indonesia maupun Australia bersama-sama membacakan puisi, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq yang membacakan puisi “Rohana”.Malam sastra di Wisma Indonesia bukan sekadar acara membaca puisi, tapi cara lain untuk menjaga Bahasa Indonesia tetap “hidup” di telinga warga Australia.Baca juga: Cerita Para Guru Mengajar Bahasa Indonesia di Australia: Membawa Budaya ke Ruang KelasHelvy Tiana Rosa, yang hadir sebagai pembicara, menekankan bahwa bahasa tidak hanya soal kemampuan teknis.“Bahasa itu bukan hanya soal bisa, tapi soal kedekatan emosional,” ujarnya.Ia percaya bahwa sastra dapat menghancurkan jarak. Ketika warga Australia membacakan puisinya, Helvy menyebut itu sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari, tetapi dirasakan.Bahasa mungkin diajarkan di kelas, tetapi ia hidup melalui manusia yang mencintai dan merayakannya.Selain berpuisi, malam itu juga diisi dengan cerita kerja panjang yang dilakukan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra Yulisa Fitri, dalam mempertahankan Bahasa Indonesia.Yuli memimpin program Indonesia Goes to School, sebuah inisiatif yang membawa bahasa dan budaya Indonesia langsung ke ruang kelas. Minimal dua sekolah ia kunjungi tiap bulan.“Bahasa itu tidak bisa dipisahkan dari budaya,” ujarnya dalam sesi diskusi.Dalam setiap kunjungan, ia tidak hanya memperkenalkan dasar bahasa, tetapi juga pengalaman budaya. Ia mengajak para siswa memainkan gamelan, mencoba pakaian adat, sampai belajar rumah-rumah adat Indonesia.Baca juga: Sejarah Baru, Pertama Kalinya Kongres Nasional Bahasa Indonesia 2025 Digelar di AustraliaNamun, upaya ini tidak selalu berjalan mulus. Jarak antar wilayah di Australia yang sangat luas membuat kunjungan sekolah sering terkendala.“Kadang baru sampai area tertentu, cuaca ekstrem membuat jadwal kami batal,” tambah Yuli.Satu hal yang sebenarnya ingin dilakukan Atdikbud adalah mengenalkan bahasa lewat kuliner Indonesia.
(prf/ega)
Saat Puisi Indonesia Menggema di Malam Sastra Australia: Hidupkan Bahasa, Merawat Jejak Budaya
2026-01-12 07:31:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:45
| 2026-01-12 07:40
| 2026-01-12 07:35
| 2026-01-12 06:31
| 2026-01-12 06:01










































