KITA sedang menyaksikan satu fase penting dalam sejarah kepemimpinan Indonesia. Fase ketika pencitraan perlahan mencapai batasnya.Ketika kemasan retak oleh realitas. Ketika publik tidak lagi mudah diyakinkan oleh simbol, seremoni, dan narasi yang dipoles rapi.Inilah yang bisa kita sebut sebagai kiamat pencitraan. Dan di titik inilah, warganet kini berhadapan langsung dengan pemimpin tipu-tipu.Kita hidup di zaman ketika publik berubah lebih cepat daripada para pemimpinnya. Ini bukan tuduhan, melainkan kenyataan sosial yang bisa dirasakan hampir di semua ruang, dari politik, birokrasi, hingga organisasi mahasiswa dan kepemimpinan anak muda.Publik hari ini, terutama warganet, tidak lagi sekadar mendengar. Mereka membaca. Mereka menafsir. Mereka mencium ketidaktulusan. Mereka membedakan mana yang hadir karena kesadaran dan mana yang sekadar hadir karena kamera.Dulu, kepemimpinan bertumpu pada kata. Pidato, pernyataan resmi, dan dokumen kebijakan menjadi rujukan utama.Kini, kepemimpinan jauh lebih sering diuji lewat visual. Satu foto bisa lebih menentukan daripada satu pasal undang-undang. Satu video pendek bisa membangun atau meruntuhkan kepercayaan yang dirawat bertahun-tahun.Bukan karena substansi tak penting, tetapi karena cara manusia modern memproses realitas telah berubah.Warganet, atau yang sering kita sebut sebagai "netizen", kini telah berevolusi menjadi hakim yang paling jeli.Warga +62 sudah paham betul mana air mata yang otentik dan mana yang sekadar tetes obat mata; mana jabat tangan yang tulus dan mana yang hanya kebutuhan konten.Baca juga: Darurat Komunikasi Krisis Banjir SumateraDi tengah krisis kepercayaan ini, para pemimpin, baik di pemerintahan, korporasi, maupun gerakan pemuda, dituntut untuk memiliki lebih dari sekadar karisma panggung.Mereka membutuhkan tritunggal kecerdasan baru, literasi visual kritis, kecerdasan kolegial, dan ketangkasan spasial-virtual.Dalam konteks birokrasi dan politik Indonesia, kebutaan ini fatal akibatnya. Berapa banyak pemimpin yang turun ke lapangan hanya untuk melihat apa yang telah disiapkan oleh bawahannya?Mereka melihat jalan yang baru diaspal tepat sebelum kunjungan, tapi gagal melihat lubang menganga di jalan paralel sebelahnya.Amy E. Herman (2017) dalam bukunya Visual Intelligence menjelaskan bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar netral saat melihat. Otak kita memilih, menyaring, dan menafsirkan visual, bahkan sebelum kita menyadarinya.Lebih dari separuh jalur saraf manusia terlibat dalam pemrosesan visual, dan seperempat kapasitas otak digunakan untuk memahami apa yang kita lihat.Artinya, publik selalu membentuk kesimpulan lebih cepat daripada pemimpin sempat menjelaskan maksudnya.Mari kita mulai dengan menelanjangi cara kita memandang dunia. Herman mengajarkan kita tamparan keras bahwa sering kali kita hanya "melihat" (seeing), tapi tidak benar-benar "mengamati" (observing).Herman, yang melatih agen FBI hingga dokter untuk menajamkan persepsi mereka melalui karya seni, mengingatkan bahwa mata kita bukanlah lensa kamera yang objektif.Mata kita adalah filter yang bias, dipenuhi prasangka, pengalaman masa lalu, dan apa yang ingin kita lihat saja. Inilah yang disebutnya sebagai inattentional blindness atau kebutaan yang tidak disengaja.Herman memperkenalkan konsep "The Pertinent Negative", kemampuan untuk melihat apa yang tidak ada di sana.Seorang pemimpin dengan literasi visual kritis tidak akan hanya bertanya "Apa yang ditampilkan dalam laporan ini?", melainkan "Data apa yang hilang dari grafik yang indah ini?".
(prf/ega)
Kiamat Pencitraan: Warganet Kini Vs Pemimpin Tipu-tipu
2026-01-12 09:42:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 09:07
| 2026-01-12 08:41
| 2026-01-12 08:18
| 2026-01-12 08:13
| 2026-01-12 08:01










































