Semangat Sri Aris, 30 Tahun Jadi Kondektur Bus untuk Hidupi Dua Anak

2026-01-11 03:44:03
Semangat Sri Aris, 30 Tahun Jadi Kondektur Bus untuk Hidupi Dua Anak
SIDOARJO, - Sri Aris Giyanti (50), setiap hari berseragam rapi bertuliskan PO Harapan Jaya, melaju dari Tulungagung menuju Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo, membelah kemacetan.Sebagian orang melihatnya sebagai pendamping sopir. Namun di jalanan, ia bertugas menavigasi, memastikan semua penumpang berangkat sesuai tarif dan selamat sampai tujuan.Pekerjaan ini ia lakoni sejak tahun 1995, artinya sudah 30 tahun Aris menghidupi kedua anaknya sebagai kondektur bus sekaligus seorang ibu yang tak lupa menyiapkan bekal anaknya.“Sebenarnya takut dulu itu, awal-awal takut. Kok begini, tapi beban keluarga banyak, saya punya tiga adik, tiba-tiba kuliah,” kata Aris saat ditemui Kompas.com, Senin .Baca juga: Membasuh Kaki Ibu, Cara Haru Ratusan Siswa MI di Sumenep Rayakan Hari IbuAris merupakan anak kedua dari lima bersaudara, tetapi ia menjadi tulang punggung keluarga dan rela mengubur mimpi berkuliah demi membiayai pendidikan adik-adiknya.“Cita-citaku dulu masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), tes gagal. Terus saya terjun sebagai kondektur bus, akhirnya bisa cari uang sendiri,” ujarnya.Ia tak menampik awal bekerja sebagai kondektur bus sangatlah berat.Menggerus aspal jalanan dari Tulungagung sampai ke Surabaya setiap hari membuatnya lelah, gajinya pun tak seberapa.Tetapi, semakin mengenal pekerjaannya, Aris menemukan keseriusan.Terlebih, melalui profesinya, ia bertemu jodoh yang sekarang menjadi suaminya, yang juga seorang kondektur bus.“Suami juga pramugara bus tujuan Jakarta, anak saya dua, umur 25 sama kelas 5 SD,” tuturnya.Baca juga: Perjuangan Soleha, Pengamen Perempuan di Bogor yang Hidupi 5 AnaknyaDukungan dari keluarga dan anak-anak membuatnya semangat dan terus tersenyum menjalani kehidupan sehari-hari sebagai kondektur bus.“Bayarannya nggak banyak, nggak seperti pegawai negeri. Tapi yang bikin semangat anak-anak, kebutuhan juga,” ungkapnya.Selain itu, pekerjaan kondektur bus ia rasakan sebagai healing, melaju dari kota ke kota. Rasa lelahnya tersamar dengan banyaknya beban yang ia pikul.“Senangnya karena banyak ketemu orang, walau banyak masalah di rumah tapi bisa keluar, cuci mata, bisa bercanda sama teman-teman,” bebernya.Meskipun begitu, Aris tak mengesampingkan tugasnya sebagai seorang ibu.Setiap pagi, ia tak lupa untuk memasak dan menyiapkan seragam sekolah anaknya.Tak lupa, uang saku tak seberapa ia selipkan untuk anaknya, memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi di bawah bantuan asuhan orangtuanya.“Pagi nyiapin kebutuhan anak-anak. Siang baru berangkat ke Surabaya, pulang jam 20.30 WIB malam. Tinggalin uang, yang penting uangnya,” pungkasnya.


(prf/ega)