Puncak Arus Mudik Natal 2025 Telah Berlangsung, 201 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

2026-01-16 13:29:58
Puncak Arus Mudik Natal 2025 Telah Berlangsung, 201 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat peningkatan signifikan arus lalu lintas kendaraan yang meninggalkan Jabotabek pada H-1 libur Natal 2025. Pada periode Rabu pukul 06.00 WIB hingga Kamis pukul 06.00 WIB, total kendaraan yang tercatat mencapai 201.257 unit, atau naik 44,10 persen dari lalu lintas normal sebanyak 139.668 kendaraan.“Adapun pada hari tersebut, arus lalu lintas meninggalkan Jabotabek di empat GT Utama tercatat mencapai 201.257 kendaraan atau meningkat 44,10 persen dari lalin normal,” ujar Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan A. Purwantono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis .Lonjakan signifikan terjadi pada kendaraan yang menuju arah Trans Jawa dan Bandung. Di Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama, tercatat 61.023 kendaraan, meningkat 113,70 persen dari kondisi normal 28.556 kendaraan. Sementara di GT Kalihurip Utama, tercatat 45.644 kendaraan, naik 67,66 persen dari normal 27.224 kendaraan.Advertisement“Pada H-1 Libur Natal 2025, Jasa Marga mencatat peningkatan volume kendaraan yakni sebanyak 201.257 kendaraan meninggalkan Jabotabek dan menjadi puncak arus lalu lintas, jumlahnya lebih tinggi dari Sabtu, 20 Desember 2025 yang mencapai 189.371 kendaraan,” ucap Rivan.Rivan menyebut tingginya mobilitas masyarakat menjelang Natal turut mendorong peningkatan arus kendaraan, terutama untuk berkumpul bersama keluarga maupun merayakan Natal di luar kota.“Jasa Marga telah menyiapkan seluruh layanan operasional secara optimal untuk mengantisipasi lonjakan tersebut guna memastikan perjalanan pengguna jalan tetap aman, nyaman, dan berkeselamatan,” katanya. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 20:44