Timwas DPR Penanganan Bencana Alam Panggil Para Menteri, Ingatkan Akhir Tahun Rawan

2026-02-03 09:17:13
Timwas DPR Penanganan Bencana Alam Panggil Para Menteri, Ingatkan Akhir Tahun Rawan
JAKARTA, - Tim Pengawas (Timwas) Penanganan Bencana Alam DPR memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga untuk rapat mengenai Indonesia yang rawan bencana setiap akhir tahun.Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut, Indonesia kerap menghadapi berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan."Memasuki akhir tahun, kita dihadapkan pada siklus tahunan bencana hidrometeologi yang muncul bersamaan dengan meningkatnya curah hujan," kata Cucun, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu .Cucun menyampaikan, berdasarkan data terkini dari BMKG, sebanyak 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan hingga akhir Desember 2025.Baca juga: DPR Sentil Kepala BNPB Tak Hadiri Rapat Penanganan Bencana: Masih Perlu DPR Kan?Dia membeberkan, curah hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 80-150 mm per hari telah tercatat di sejumlah wilayah, seperti Jawa Barat dan Jakarta."Kondisi ini menjadi indikasi kuat bahwa atmosfer berada dalam keadaan yang sangat labil dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah," ujar dia."Dampak dari bencana tidak hanya terbatas pada kerugian materil seperti kerusakan bangunan dan fasilitas umum, tetapi juga mencakup kerugian nonmateril seperti hilangnya nyawa manusia, trauma psikologi, dan terganggunya kehidupan sosial ekonomi masyarakat," sambung Cucun.Cucun menyebut, bencana juga dapat memperburuk ketimpangan sosial dan mengakibatkan kerentanan yang lebih besar terhadap kemiskinan dan ketidakadilan.Dalam praktiknya, kata dia, penanggulangan bencana seringkali masih menghadapi kendala koordinasi lintas kementerian.Baca juga: Eko Patrio Bikin Video Parodi Sound Horeg untuk Balas Kritik, MKD DPR: Terkesan Defensif"Ini yang menjadi kasus, kadang-kadang klasik, koordinasi dan kolaborasi, serta lemahnya sinergi di lapangan. Padahal, penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara sektoral dan parsial. Dibutuhkan satu komando operasi terpadu yang jelas dan efektif, yang mampu mengintegrasikan seluruh tahapan penanganan," papar dia.Dalam kesempatan ini, hadir Sestama BNPB Rustian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan, Kepala BMKG Faisal, Wamen PU Diana Kusumastuti, perwakilan Polri, hingga perwakilan Kemendagri.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-03 09:27